0  _ 0  0_0000_aaaaaaaaaaaaa_ada apenyitaan paruh burungTRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK – Jajaran Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Bekerjasama dengan Polda Kalbar melakukan penggerebekan dan penangkapan tersangka LS alias Among, warga jalan Kenanga Dusun Laja Permai Desa Paal Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi. LS merupakan penampung dan pedagang satwa liar yang dilindungi.

Saat dilakukan penggerebekan tim, menemukan dan mengamankan 229 paruh burung Enggang, 27,3 Kg Sisik Trengiling, 1 lembar kulit ular Sanca, 44 Kuku Beruang Madu, 27 Empedu Labi-labi, 109 Empedu dari beberapa jenis satwa liar lainnya.

Juga diamankan beberapa barang bukti berupa dua alat timbangan dan satu timbangan elektrik yang diduga digunakan tersangka untuk melakukan transaksi jual beli bagian tubuh hewan yang dilindungi tersebut.

Kepala Balai BKSDA Kalbar, Ir Siti Chadidjah Kaniawati MWC mengatakan penangkapan dan pengamanan berdasarkan informasi masyarakat dan dilakukan penyelidikan dan pengembangan. Dari informasi tersebut Kamis (25/4) sekitar pukul 14.15 Wib tim SPORC Brigade Bekantan BKSDA Kalbar bersama Polda Kalbar menggerebek rumah penampung di jalan Kenanga Dusun Laja Permai Desa Pal Kec. Nanga Pinoh Kabupaten Melawi.

“Kita lakukan penggerebekan di kediaman tersangka dan ditemukan ratusan bagian tubuh hewan yang dilindungi beserta tersangka berinisial LS alias Among yang diduga menampung bagian satwa yang dilindungi,” ungkapnya ditemui di kantor BKSDA Kalbar, Jumat (26/4/2013).

Setelah menggeledah kediaman Among pihak SPORC Brigade Bekantan Balai KSDA Kalbar bergerak melakukan penggerebekan di rumah lainnya yang diduga juga sebagai tempat penampung tubuh hewan yang dilindungi. “Saat dilakukan penggerebekan di rumah lainnya yaitu rumah SI yang lokasinya 20 meter dari rumah Among ditemukan tujuh paruh Enggang Gading, tapi pelaku tidak berada di rumah,” katanya.

Tim lalu melakukan pelacakan dengan menghubungi ponsel SI, namun tidak aktif dan ditunggu tidak muncul. Tim lalu memutuskan berkoordinasi dengan Polres Melawi untuk menindaklanjuti terhadap SI. Sedangkan barang bukti diamankan tim di Kantor BKSDA Kalbar di Pontianak.

Berdasarkan pemeriksaan sementara terhadap tersangka Among, bagian tubuh hewan tersebut dibeli dari masyarakat dan selanjutnya dibeli oleh orang Taiwan yang dibawa oleh orang Jakarta. Untuk transaksi dilakukan di luar kota Nanga Pinoh.
Satu paruh dengan berat 80-100 gram dihargai Rp 4 juta dan dibeli dari pemburu sekitar Rp 3-3,8 juta. Sedangkan untuk ukuran 79 gram ke bawah dibeli orang Taiwan seharga Rp 2 juta dan dibeli dari pemburu seharga Rp 1,5-1,8 juta.

Sisik Trenggiling dijual seharga Rp 2,5 juta dan tersangka membeli dari pemburu sebesar Rp 2,3 juta, transaksi dilakukan di kediaman tersangka. “Menurut pengakuan tersangka juga telah melakukan dua kali transaksi dengan warga negara Taiwan yang dihubungkan oleh orang Jakarta.

Tindakan tersangka memperniagakan bagian-bagian satwa-satwa yang dilindungi itu melanggar pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 UU nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya diancam pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda 100 juta.

Terkait maraknya penyelundupan bagian tubuh hewan yang menjadi maskot Kalbar dan bagian tubuh hewan liar lainnya yang dilindungi menurut Siti tidak hanya nilai ekonominya saja menyebabkan kerugian negara namun nilai ekologinya berkurang sekali bahkan terancam punah.

“Karena burung ini penebar biji yang bagus sekali. Satwa penebar biji ini membantu penghijauan. Satwa ini merupakan satwa yang mengonsumsi biji-bijian,” jelasnya.

Ia menjelaskan melihat sudah sekitar ratusan dari beberapa kasus penyelundupan dan pengungkapan paruh burung Enggang di Kalbar ini jelas sangat terancam bahkan akan punah dan hilang. “Ini perlu action bersama melakukan perlindungan dan kita akan kembali melakukan sosialisasi kepada masyarakat menyampaikan arti pentingnya satwa ini dalam keadaan hidup, jadi ekologi yang perlu dipahami masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya harapan yang sangat besar setelah masyarakat mendapatkan informasi mengetahui pentingnya kehidupan burung ini dalam kondisi hidup sehingga masyarakat ikut menjaga. “Saya fikir ada masyarakat yang sudah mengerti namun karena permintaan pasar yang tinggi dan nilai jual bisa jadi masyarakat tergoda,” katanya. (isf)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber : Tribun Pontianak