JAKARTA (Suara Karya): Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta bersama jajaran Bareskrim Mabes Polri menyita puluhan satwa liar yang dilindungi dari rumah pribadi Camat Kramatjati Ucok Bangsawan Harahap di Jalan Gamprit, Pondok Gede, Bekasi.

Saat ini hewan-hewan tersebut sudah diamankan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegalalur, Jakarta Barat, Kamis (18/10). Adapun penyitaan tersebut berlangsung Rabu malam.

Petugas penyidik BKSDA DKI Jakarta, Adam Mustofa membenarkan kalau seluruh hewan liar yang dilindungi itu disita dari rumah Camat Kramatjati, Ucok Bangsawan Harahap.

Hewan yang disita terdiri dari, 2 burung kakak tua mollucensis, 7 kakak tua jambul kuning, 4 kakak tua raja, 1 burung rangkong, 1 elang bondol, 1 burung merak hijau, 5 burung mambruk, 4 burung nuri merah kepala hitam, 1 siamang, 7 burung nuri bayan dan 10 offset cendarawasih.

“Di dalam rumah itu ada pula dua ekor harimau. Tapi pemiliknya menolak disita karena menurutnya itu harimau dari luar negeri. Namun, kami curiga jika dua harimau tersebut merupakan harimau asal Sumatera. Untuk memastikannya kami ambil darahnya untuk melakukan tes DNA. Jika benar harimau Sumatera tentu akan kami sita,” ujar Adam Mustofa kepada beritajakarta.com, Kamis (18/10).

Dikatakan Adam, informasi adanya sejumlah satwa yang dilindungi itu berdasarkan informasi dari warga. Mendapat informasi tersebut, pihaknya bersama Bareskrim Mabes Polri dan Kementerian Kehutanan langsung mendatangi rumah Ucok Bangsawan.

Koordinator Liga Anti Perdagangan Satwa, Irma Hermawati yang turut melakukan penyitaan tersebut menuturkan, seluruh satwa yang dilindungi tidak boleh diperjualbelikan. Pelakunya, kata Irma, dinilai melanggar UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem.

“Seluruh hewan tersebut disita petugas dan dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa di Tegalalur,” katanya.

Sementara itu, Camat Kramatjati, Ucok Bangsawan Harahap, selaku pemilik sejumlah satwa ini menampik kalau hewan peliharaannya itu disita petugas, melainkan hanya diserahterimakan. Ia juga menampik kalau hewan yang disita jumlahnya sebanyak yang disebutkan petugas. Menurutnya, jumlah satwa yang disita petugas hanya delapan burung jenis kaka tua.

Mengenai keberadaan harimau, dikatakannya dua harimau tersebut berasal dari India dan merupakan hibah dari seorang bernama Kusbanu yang merupakan kolektor tahun 2008 lalu.

“Saya menjalankan ini hanya sebagai hobi. Saya tidak pernah memperjualbelikan satwa. Saya juga tidak tahu kalau burung nuri, kakak tua dan lainnya itu dilindungi undang-undang,” katanya.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi DKI Jakarta, Budhiastuti mengaku, belum mengetahui kasus yang dialami Camat Kramatjati tersebut. Namun, jika hal itu benar terjadi, harusnya yang melakukan penanganan langsung adalah atasannya yakni Wali Kota Jakarta Timur.

Sementara itu, Plh Wali Kota Jakarta Timur, HR Krisdianto mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada BKSDA DKI Jakarta, Kementerian Kehutanan dan Bareskrim Mabes Polri yang menananganinya. “Kita serahkan sepenuhnya kepada penegak hukum yang menangani kasus ini. Tentu kami juga menunggu perkembangan kasus ini,” ujarnya. (Dwi Putro AA)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=313761