SUMBAWA-Operasi penertiban perambahan hutan di kawasan Gili Ngeru Kamis lalu, berlangsung dramatis. Polisi Kehutanan (Polhut) mengamankan empat diantara puluhan perambah. Namun, salah seorang anggota Polhut justru disandera warga.

Akibatnya, nyaris terjadi bentrok ketika rombongan Polhut yang membawa empat perambah hutan ini ini dihadang massa. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan itu, Polhut mengalah. Petugas lantas melepas para perambah yang ditangkap untuk ditukar dengan anggotanya yang disandera. 

Operasi ini berawal dari informasi tentang adanya aksi perambahan hutan di Gili Ngeru. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumbawa Ir Sigit Wiratsongko kemudian memerintahkan Polhut melakukan pengecekan. Kepala Seksi Pengamanan Hutan Baijuri Bulkiah kemudian membawa 20 personel mengecek kebenaran informasi tersebut.

Sampai di lokasi, mereka memergoki puluhan perambah yang sedang melakukan penebangan pohon. Melihat kedatangan Polhut, para perambah hutan ini langsung kabur. Namun Polhut berhasil menangkap empat orang di antaranya. Mereka adalah Caco, Suhaili, Japaruddin dan A Rahman. Keempatnya merupakan warga Dusun Prajak Desa Batu Bangka.

‘’Lahan yang sudah dirambah dan dikuasai masyarakat sekitar 40 sampai 70 hektare. Bekas-bekas penebangan berserakan di sana-sini,’’ kata Baijuri.

Setelah situasi aman, para Polhut hendak kembali. Untuk melengkapi laporan, keempat petugas mengambil titik koordinat lokasi. Sedangkan Baijuri dan personel lain kembali membawa keempat pelaku perambahan.

Rupanya, karena empat rekannya ditangkap, para pelaku perambahan hutan ini berbalik ke lokasi penebangan. Namun, sampai di lokasi mereka hanya menemukan empat petugas Polhut.

Seketika kawanan perambah ini langsung menyerang para petugas. Karena kalah jumlah, keempat personil Polhut ini berupaya melarikan diri. Namun apes bagi salah seorang anggota Polhut, Agus Darsono. Anggota UPT KPH Batu Lanteh ini ditangkap dan disandera warga. Dia dibawa lari dengan speed boat menuju Dusun Prajak.
Tiga rekan Agus yang melarikan diri pun mengejar rombongan Baijuri dan melaporkan kejadian tersebut. Khawatir terhadap kondisi rekannya, anggota Polhut kembali menuju lokasi penebangan liar.

‘’Tapi sampai di sana ternyata sudah tidak ada siapa-siapa, karena Agus sudah dibawa ke Dusun Prajak,’’ kata Baijuri.

Karena tidak menemukan siapapun, anggota Polhut ini kembali dengan membawa keempat pelaku perambahan tersebut. Sampai di perempatan Ngeru-Batu Bangka, puluhan warga dari Desa Prajak menghadang para petugas. Mereka berusaha menghalang-halangi petugas agar tidak membawa keempat pelaku perambahan hutan itu. Warga bahkan mengancam tidak akan melepaskan Agus. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Polhut akhirnya mengalah.

‘’Demi keselamatan anggota, untuk sementara kami mengalah,’’ ungkap Baijuri.

Kadishut Ir Sigit Wiratsongko yang dihubungi Koran ini mengaku menyesalkan terjadinya insiden tersebut. Namun dia menegaskan, pihaknya tidak akan bergeming. Penertiban di kawasan hutan industri itu bakal tetap dilakukan.

‘’Kami tidak akan surut,’’ tegasnya.

Sementara itu, Dishutbun telah melayangkan surat panggilan terhadap para pelaku perambahan kemarin. Siang harinya, anggota Polhut dengan personil yang jauh lebih besar kembali bergerak menuju lokasi. (jar)

Sumber : http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=140600