JAKARTA, KOMPAS.com – Kemitraan publik-swasta yang dibentuk untuk menyelamatkan Badak Jawa dari kepunahan melaporkan, kemitraan untuk meningkatkan jumlah populasi hewan tersebut di Taman Nasional Ujung Kulon sebanyak 50% dalam kurun waktu lima tahun telah memperlihatkan kemajuan setelah duabelas bulan tim tersebut dibentuk. Kelompok Kerja Aksi Konservasi Badak Jawa (Pokja) ini merupakan gabungan dari para ahli dari berbagai disiplin, meliputi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), LSM setempat, perusahaan swasta, serta akademisi.

Pokja tersebut melaporkan hasil kegiatan mereka setelah satu tahun beroperasi. Langkah-langkah penting telah diambil untuk meningkatkan sistem perlindungan habitat badak Jawa di dalam area Ujung Kulon, dan telah mampu mengurangi kegiatan perambahan oleh masyarakat lokal dan perburuan liar. Beberapa kamera video yang ditempatkan di dalam habitat badak sepanjang 2011 menunjukkan adanya komunitas badak sedikitnya 35 ekor, termasuk di antaranya beberapa badak berusia muda.

Kepala Taman Nasional Ujung Kulon dan Koordinator Program Pokja, Dr Moh. Haryono mengatakan, untuk jangka panjang, ekowisata yang bernilai jual tinggi ini dapat memberikan kerangka ekonomi bagi pengelola dan komunitas sekitar Taman Nasional Ujung Kulon, sehingga mampu menyediakan fasilitas yang dapat menunjang tumbuhnya populasi Badak Jawa secara berkesinambungan.

“Video yang kami sebarluaskan hari ini menunjukan bahwa perjuangan untuk menyelamatkan Badak Jawa dari kepunahan masih berlanjut. Ada komunitas badak Jawa yang meskipun kecil namun berkembang di dalam Taman Nasional, yang dapat bertambah jika kondisinya tetap terjaga dengan baik,” ujar Haryono kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (26/4/2012).

Ia mengatakan, selama 12 bulan pertama dari program Pokja ini, dengan bantuan dari LSM dan sektor swasta, yaitu Asia Pulp & Paper (APP), pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi habitat badak dengan fokus pada kegiatan pengembangan masyarakat dan pendidikan.

Adapun Taman Nasional Ujung Kulon berlokasi di ujung barat pulau Jawa dengan luasan 122.451 hektare, dan dikelilingi oleh 15 desa. Selama 12 bulan, Pokja tersebut menjalankan sejumlah proyek pemberdayaan masyarakat dengan memprioritaskan pemberian pendidikan dan pelatihan untuk mata pencaharian alternatif yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga dapat menghindari adanya perambahan ke dalam wilayah konservasi.

Pada 12 bulan pertama, Pokja tersebut memulai aktivitas peningkatan kualitas habitat dan restorasi habitat badak Jawa, seperti misalnya mengontrol tumbuhnya spesies tanaman Langkap (Arenga obtusifolia) yang memusnahkan tumbuhan pakan badak. Pokja tersebut juga membantu memantau populasi badak Jawa menggunakan video pemantau.

“Kerjasama ini adalah sebuah contoh ari kemitraan masyarakat-swasta yang berjalan dengan baik. Kami mengajak pihak-pihak lain juga turut aktif berpartisipasi dalam kerjasama ini di masa mendatang sehingga dapat mendukung usaha pemerintah dalam melindungi konservasi spesies yang terancam punah,” ujar Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Kehutanan, Ir Novianto Bambang W.

Badak Jawa pernah menjadi salah satu jenis badak Asia yang paling luas penyebarannya dengan jumlah ribuan tersebar di Indonesia, Myanmar, Thailand dan Semenanjung Malaysia. Perburuan yang dilakukan semasa era pendudukan Belanda selama ratusan tahun telah menyebabkan penurunan dramatis dari populasi badak Jawa. Jumlah hewan ini terus menurun hingga setelah tahun 1990-an akibat perburuan ilegal yang dilakukan untuk mendapatkan cula badak yang langka dan sangat berharga tersebut, serta perambahan hutan yang mengakibatkan punahnya habitat mereka.