Pekanbaru (ANTARA News) – Haruskah kita diam dan mematung sedemikian rupa saat bersua dengan harimau sumatera di hutan? Atau malah justru ambil keputusan menyaingi atlet lari jarak pendek peraih medali emas olimpiade, Carl Lewis atau Ben Johnson dengan lari sprint sekuat tenaga?

Keduanya bisa salah jika ada dalam kondisi sejatinya. Itulah yang menjadi landasan untuk menyosialisasikan sejumlah tips jika secara kebetulan (atau sengaja?) bertemu dengan si raja hutan itu  (Panthera tigris sumatrae).

Berikut ini sejumlah tips untuk menghindari resiko mematikan di daerah rawan konflik dengan harimau yang disampaikan Koordinator Monitoring dan Antiperdagangan Harimau Sumatera WWF Riau, Osmantri, di Pekanbaru, Kamis.

“Tips pertama untuk menghindari harimau saat kita masuk ke kawasannya adalah jangan pernah berjalan sendirian, minimal bersama dua orang,” katanya.

Tips yang kedua saat berada di kawasan harimau adalah dengan mempelajari perilaku satwa predator itu. Menurut dia, harimau selalu menerkam buruannya dari arah belakang.

Karena itu, ia menyarankan agar warga selalu memakai topeng yang dipasang di belakang kepala. Hal itu untuk menunjukkan kepada harimau bahwa kita selalu memperhatikan situasi di sekitar dan memperkecil resiko diserang.

“Bagusnya, kita memakai topeng di belakang kepala untuk mengecoh harimau,” katanya.

Ketika berpapasan langsung dengan harimau liar, lanjut Osmantri, sebaiknya kita tak menunjukkan ketakutan yang berlebihan. Langsung melarikan diri dengan cara berlari, lanjutnya, adalah langkah yang bodoh karena itu akan membuat harimau langsung mengejar karena kita dianggap buruan yang lemah.

“Pada saat berhadapan dengan harimau jangan tunjukkan kita lemah, lebih baik kita melangkah mundur perlahan dan tidak berlari,” ujarnya.

Kemudian, ia menyarankan agar mempersenjatai diri seperti tongkat panjang atau parang saat berhadapan dengan harimau. Sambil perlahan mundur, lanjutnya, kita perlu segera mencari tempat yang aman untuk berlindung seperti mencari pohon yang tinggi.

Konflik antara manusia dan harimau Sumatera makin terus meningkat di Riau akibat laju pembangunan yang membabat hutan tempat jelajah satwa yang dilindungi itu. Pada awal Juli, keberadaan harimau meresahkan warga di Desa Sanglap Kabupaten Indragiri Hulu karena telah menerkam tiga ternak juga dua ekor hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.

Pada waktu yang sama seekor harimau Sumatera juga tewas akibat terjebak jerat kawat baja di dalam konsesi PT Arara Abadi di Kabupaten Pelalawan, Riau, pada 1 Juli lalu.
(ANT.F012)

Editor: Ade Marboen