Ambon (ANTARA News) – Belasan wartawan media cetak dan elektronik di Ambon mulai turun lapangan untuk memantau dan meneliti kondisi terakhir Taman Nasional (TN) Manusela, di Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah.

Direktur Perkumpulan Telapak (salah satu organisasi yang tergabung dalam Colupsia), Ridzki Rinanto Sigit, di Ambon, Kamis, mengatakan, 15 wartawan dilibatkan untuk melakukan pemantauan dan penelitian selama tiga hari terhadap kondisi kawasan TN Manusela.

“Penelitian akan dilakukan di empat lokasi yang merupakan daerah lingkar luar TN Manusela yakni di Desa Waraka, Seti, Tehoru serta Desa wisata Sawai,” katanya.

Selama tiga hari (19-21 Mei) para wartawan dari bergaia media itu akan berada di lokasi untuk menghimpun data tentang kondisi kawasan Hutan Manusela yang merupakan satu-satunya taman nasional di Maluku.

Para wartawan yang terlibat itu, sebelumnya telah mengikuti Workshop yang digelar Colupsia, salah satu lembaga independen yang peduli dengan masalah lingkungan untuk menyamakan persepsi dan masukan tentang kondisi TN Manusela, sebagai bagian dari advokasi yang akan dilakukan.

CoLUPSIA (Collaborative Land Use Planning and Sustainable Institutional Arrangement) merupakan kolaborasi organisasi-organisasi, lembaga riset dan perguruan tinggi yang memiliki kepedulian terhadap sumberdaya alam hayati diantaranya CIRAD, CIFOR, Telapak, HuMA, TOMA, dan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.

Dia menandaskan, keterlibatan wartawan berbagai media itu untuk membangun kapasitas jurnalis dan media di Maluku, khususnya di Ambon terhadap isu-isu kunci pengelolaan sumberdaya alam, tata ruang, dan pemanfaatan jasa lingkungan khususnya pada kawasan ekosistem TN Manusela di Seram.

Kawasan TN Manusela di Pulau Seram merupakan salah satu kawasan konservasi penting di daratan dengan luas 189.000 hektar dan ditetapkan dengan SK No. 281/Kpts-VI/1997.

Selain dihuni beragam spesifik endemik yang merupakan daerah khas Wallacea, maka TN Manusela memiliki berbagai keunikan topografi yang terbentuk dari ekosistem karst yang khas.

Dari sisi budaya di dalam dan sekitar kawasan TN Manusela, tinggal generasi demi generasi kelompok masyarakat yang sebagian besar diantaranya masih terikat kepada sistem pranata adat, di mana menjadi aset nasional, tetapi juga internasional.

“Tetapi hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum paham dan mengetahui secara penuh mengenai hal ini. Makanya peran media sebagai agen untuk mengedukasi masyarakat, menjadi sangat penting sebagai penghubung (media channels), sekaligus menjadi medium untuk mendesiminasikan berbagai pesan lingkungan,” katanya.

Disisi lain, bagi pemerintah pesan-pesan lingkungan perlu didorong agar berbagai kebijakan dan perilaku birokrasi menjadi pro-lingkungan.

“Terkait permasalahan lingkungan dan pengelolaan sumberdaya alam ini, sudah waktunya diperlukan suatu metode yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan agar dapat diterima berbagai lapisan masyarakat,” katanya.

Dia berharap adanya roduk media (feature, news, sejenisnya) yang dihasilkan termasuk di dalamnya liputan topik tentang permasalahan lingkungan sosial budaya di kawasan ekosistem Manusela.

“Diharapkan hasil liputan para wartawan ini lebih `membumi’ disertai dengan hasil riset dan pencermatan terhadap kondisi riil di lapangan yang dilakukan kalangan media sesuai dengan prinsip dan etika konten yang berlaku,” ujarnya.

Selain itu, adanya rumusan kerjasama maupun kesepakatan lebih lanjut yang dapat dijalin oleh masing-masing pihak untuk membangun ikatan kerjasama lebih erat di masa mendatang, termasuk rencana untuk berbagi informasi (sharing content) yang dapat dilaksanakan.  (ANT/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2011