Pekanbaru (ANTARA News) – Balai Taman Nasional Tesso Nilo menyatakan kembali mengaktifkan patroli bersama melindungi hutan konservasi. “Upaya yang kita lakukan saat ini adalah menghidupkan kembali patroli bersama melibatkan LSM dan perusahaan yang memiliki hutan tanaman di sekitar Tesso Nilo,” ujar Kepala Balai TN Tesso Nilo, drh Hayani Suprahman, di Pekanbaru, Selasa.

Patroli bersama terhadap taman nasional itu telah dibentuk tahun 2007 dengan nama Tim Tesso Nilo, namun hanya berjalan dua tahun karena pada 2009 kegiatan tim difokuskan pada perluasan kawasan seiring tingginya kerusakan lahan di hutan konservasi.

Hingga akhir tahun 2009, pihak balai mencatat kerusakan dan alih fungsi lahan di kawasan TN Tesso Nilo sekitar 30 persen atau mencapai 28.000 hektare dari total luas hutan koservasi di Provinsi Riau 83.064 hektare.

Menurut Hayani, kebijakan pengaktifkan kembali patroli bersama itu juga dilakukan untuk mendukung operasi penertiban dan pembersihan yang dilakukan sejak awal tahun 2011 yang melibatkan 250 personel gabungan dari berbagai unsur penengak hukum.

Patroli fungsional akan dilakukan secara rutin setiap hari dan gabungan pada setiap pekan sesuai dengan giliran masing-masing, baik yang dilakukan pihak otoritas TN Nilo, Dinas Kehutanan, LSM, perusahaan, dan forum masyarakat setempat.

“Jadi nanti patroli dilakukan bergilir. Misalnya hari ini giliran WWF, kemudian esok giliran pihak perusahaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) karena mereka juga harus memberi kontribusi bagi taman nasional dan kami sebagai koordinator,” jelasnya.

Humas WWF Riau, Syamsidar, mengatakan, selain untuk mencegah perambahan baru, patroli besama juga dilakukan untuk memberi pengarahan dan pemahaman kepada masyarakat yang mendirikan tempat tinggal di dalam kawasan TN Tesso Nilo.

“Sedangkan yang tertangkap tangan sedang menjarah di dalam lokasi, maka akan diproses. Keterlibatan perusahaan dalam patroli bersama diperlukan untuk melindungi Tesso Nilo dan pengawasan terhadap area lahan mereka sendiri,” ujarnya.

Data WFF Riau menyebutkan, selain RAPP juga terdapat tiga perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan dan perkayuan di kawasan TN Tesso Nilo yakni PT Nanjak Makmur, PT Siak Raya Timber, dan PT Hutani Sola Lestari.

Kementerian Kehutanan menetapkan Tesso Nilo yang memiliki koleksi 360 jenis flora yang tergolong 165 marga dan 57 suku itu, sebagai taman nasional pada 19 Juli 2004 dengan luas 38.576 hektare, dan kemudian diperluas menjadi 83.064 hektare pada 2009.

Aktifitas perambahan masih menjadi ancaman serius bagi habitat gajah dan harimau Sumatera serta 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia yang selama ini hidup berdampingan.

(M046/E001)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011