akarta (ANTARA News) – Penduduk pulau Harapan, Kepulauan Seribu, akan produksi 1 juta pohon mangrove untuk memenuhi permintaan pemerintah DKI Jakarta.

“Tahun ini, kami menyiapkan 1 juta pohon mangrove sedangkan tahun 2010, masyarakat pulau Harapan memproduksi 500.000 mangrove untuk memenuhi permintaan pemerintah DKI Jakarta,” kata tokoh masyarakat Pulau Harapan Rambo di Jakarta, Minggu.

Pemerintah DKI akan membeli produksi tanaman mangrove masyarakat pulau Harapan kemudian menanamkannya di kepulauan Seribu untuk mencegah erosi dan ancaman tsunami. Pada 2010, Pemda DKI membeli 500.000 bibit mangrove dan tahun 2011 akan membeli satu juta mangrove.

“Masyarakat pulau Harapan mulai membudidayakan bibit tanaman mangrove sejak tahun 2005 setelah tsunami di Aceh tahun 2004,” kata Rambo.

Setelah tsunami, pemerintah minta masyarakat Kepulauan Seribu untuk membudidayakan tanaman mangrove. Karena menguntungkan dari segi pendapatan dan ekosistem, masyarakat pulau Harapan, salah satu pulau di kepulauan Seribu, terus bergairah membudidayakan bibit mangrove.

“Dari satu bibit mangrove, petani mendapat untung Rp300 per tanaman. Jadi jika satu juta mangrove dibeli pemerintah Jakarta maka pendapatannya sekitar Rp300 juta untuk sekali masa panen. Ada sekitar 250 kepala keluarga KK) yang terlibat dalam pembibitan mangrove,” katanya.

Pembibitannya perlu waktu tiga bulan. Tanaman mangrove selain berfungsi menahan erosi, tsunami ternyata juga memberikan makanan dan tempat yang nyaman bagi ikan dan kepiting sehingga menambah tangkapan ikan dari nelayan setempat.

“Selain memberikan manfaat pendapatan dan ekosistem, tanaman mangrove juga membuat ikan nyaman di pinggir pantai sehingga mudah bagi nelayan mendapatkan ikan,” tambah Rambo.

Tokoh masyarakat pulau Harapan mengatakan hal itu saat mendampingi sekitar 30 alumni SMA 70 Bulungan Jakarta Selatan tahun 1986 yang melakukan reuni dan konservasi alam, salah satunya menanam pohon mangrove di pantai pulau Harapan.

“Kami mengadakan reuni alumni SMA 70 tahun 1986. Jadi tahun 2011 ini merupakan 25 tahun kami lulus SMA. Dalam 25 tahun usai lulus SMA, kami adakan reuni di kepulauan Seribu untuk snorkeling tapi juga melakukan konservasi alam yaitu menanam pohon mangrove dan mendatangi pusat rehabilitasi elang laut (bondol),” kata Meta, jurubicara ILUNI SMA 70`86.

Dalam kegiatan reuni dan konservasi alam tersebut PT Freeport Indonesia ikut berpartisipasi dalam pendanaan kegiatan tersebut. “Ini merupakan komitmen kami pada setiap kegiatan lingkungan hidup atau penghijauan,” tambah Ramdani Sirait.(*)

(T. A029/S019)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011