JAMBI, KOMPAS.com — Sebanyak 180.000 hektar ruang hidup orangutan Sumatera di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi, habis dirambah masyarakat. Aktivitas ilegal tersebut masih terus berlangsung sehingga mengancam keberlanjutan konservasi satwa liar yang dilindungi itu.

Direktur Program Frankfurt Zoological Society (FZS)—yang menangani reintroduksi orangutan sumatera (Pongo abelii) di Jambi—Peter Pratje mengatakan, terjadi perusakan hutan cukup masif dalam delapan tahun terakhir.

Perambahan liar mengakibatkan rusaknya 180.000 hektar dari sekitar 360.000 hektar blok hutan dataran rendah di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Kawasan yang berstatus sebagai hutan produksi yang ditinggalkan para pemegang konsesinya merupakan ruang hidup orangutan yang dilepasliarkan untuk konservasi.

”Perambahan terus terjadi dan belum berhenti selama tidak ada penetapan aturan yang tegas dari pemerintah terhadap hutan-hutan itu,” ujar Peter, Selasa (1/3/2011).

Berdasarkan analisis citra tahun 1985, ekosistem Bukit Tigapuluh seluas 651.232 hektar masih memiliki tutupan hutan sebanyak 95 persen, tetapi pada 2005 menyusut menjadi 77 persen. Tahun 2010, tutupan hutan kawasan ini tersisa 49 persen.

Untuk menjamin keberlangsungan hidup orangutan sumatera, pemerintah perlu merestorasi hutan di ekosistem Bukit Tigapuluh. ”Ada sekitar 110.000 hektar hutan pada ekosistem Bukit Tigapuluh yang dapat diselamatkan dengan cara merestorasi ekosistem. Konversi hutan untuk tanaman industri hanya akan mengancam keberadaan orangutan,” tutur Peter.

Minggu (27/2), delapan orangutan sitaan dari Aceh dan Medan tiba di Jambi untuk menjalani reintroduksi atau pengenalan kembali hidup di alam liar.

Manajer Reintroduksi Orangutan FZS Julius Paolo Siregar mengatakan, semua orangutan hasil sitaan petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Medan akan dilatih dalam stasiun, sebelum dilepasliarkan pada musim berbuah pertengahan tahun ini. Satu di antaranya, Morgan, masih berusia 1,5 tahun. Sebanyak 129 orangutan sitaan petugas telah dilepas kembali ke hutan penyangga sekitar TNBT sejak tahun 2002. (ITA)