SERANG, KOMPAS.com – Video jebak yang dipasang dan dikelola tim Balai Taman Nasional ujung Kulon dan WWF Indonesia sejak 2001 berhasil mendokumentasikan dua pasang induk Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan anakannya di TN Ujung Kulon. Dokumentasi ini memberikan informasi penting mengenai dinamika populasi satwa tersebut serta metode survei Badak Jawa di Banten.

Video jebak dipasang selama periode November hingga Desember 2010. Pada bulan November, video jebak berhasil menangkap gambar seekor induk dan anakannya yang berkelamin jantan yang bergerak mendekati kamera jebak. Selama November dan Desember, induk dan anakan itu melintas kamera beberapa kali sehingga identifikasi bisa dilakukan lebih mudah dan akurat.

Pada awal Desember, video jebak juga berhasil menangkap gambar induk lain dan anakannya. Anak badak yang didokumentasikan kali ini memiliki ukuran lebih besar dari anak badak sebelumnya. Identifikasi lebih lanjut memperoleh hasil bahwa anak badak tersebut berkelamin betina dan berumur kira-kira 1 tahun.

“Teridentifikasinya anak betina merupakan angin segar bagi upaya pelestarian spesies tersebut karena selama ini mayoritas anak badak Jawa yang berhasil diidentifikasi adalah jantan,” kata Adhi Hariyadi, Project Leader kantor program WWF di Ujung Kulon, dalam siaran pers, Senin (28/2/2011).

Setelah kematian badak tahun lalu, temuan ini menjadi harapan bagi perkembangbiakan badak di Ujung Kulon serta disambut baik. “Bukti keberadaan dua anak badak ini merupakan penemuan penting karena memberikan informasi mengenai dinamika populasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon,” lanjut Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Agus Priambudi.

Dengan temuan 2 anakan, Agus yakin populasi Badak Jawa stabil pada kisaran 50 individu. “Hasil rekaman juga memberikan masukan penting bagi metode penghitungan dan pemantauan populasi badak yang selama ini dilakukan, diharapkan hasil yang diperoleh bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi upaya pelestarian satwa langka ini,” lanjut Agus.

Mulai Februari 2011, pengelolaan kamera dan video jebak akan dilakukan secara mandiri oleh TN Ujung Kulon. Penelitian Badak Jawa selanjutnya akan fokus pada pola perilaku, distribusi,  keragaman genetika, asupan nutrisi, serta risiko penyakit dan cekaman (stress). Selama 10 tahun sebelumnya, kamera dan video jebak juga berhasil mendokumentasikan 14 kelahiran badak.

Badak Jawa adalah salah satu spesies terlangka di dunia. Perkiraan populasinya tak lebih dari 50 ribu di TN Ujung Kulon dan beberapa saja di TN Cat Tien, Vietnam. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakannya sebagai spesies terancam punah dalam Daftar Merah-nya. Perburuan pernah menjadi ancaman besar bagi kelestarian spesies ini, namun sejak tahun 1990 tak lagi ditemukan insiden itu.