Serang (ANTARA News) – Tiga ekor badak jawa (Rhinoceros Sondaicus) ditemukan mati di tempat berbeda di Bali Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) selama 2010.

Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Agus Priambudi di Serang, Banten Senin mengatakan, ketiga ekor badak jawa yang mati itu ditemukan sudah tinggal kerangka dan diduga kematiannya karena faktor alam.

Tiga kerangka ekor badak jawa ditemukan di tempat berbeda yakni pada 20 Mei 2010 disekitar blok Nyiur, ke dua pada 14 Juni 2010 di blok Cikeusik dan ke tiga ditemukan di Blok Cibunar pada 28 Juni 2010.

“Kematian tiga ekor badak jawa yang ditemukan selama 2010, sebagian tergantikan dengan ditemukannya dua anak badak jawa yang tertangkap video jebak (video trap) pada November dan Desember 2010,” kata Agus Priambudi.

Dua diantaranya ditemukan dalam bentuk kerangka yang masih utuh, sedangkan seekor lagi hanya tinggal tulang kaki dan dua buah tulang rusuk.

“Salah satunya ada yang ditemukan dalam aliran sungai, kemungikan badak tersebut terjebak dan terbawa arus hingga mati,” kata Agus.

Agus mengatakan, kematian badak jawa tersebut nampak alami karena hasil uji labortorium oleh Direktur of Crew and vice Presiden of Conservation and Cincinati Zoo and Botanical Garden Dr Terry Roth pada 28 Juli 2010, tidak ditemukan “Bacilus Anthraccis”. Sebelumnya kematian badak itu diduga karena penyakit anthrax.

Menurut Agus, video trap yang diapasang oleh tim Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) WWF-Indonesia berhasil mendokumentasikan keberadaan dua induk badak jawa dan anaknya di kawasan TNUK. Dalam beberapa video klip yang didokumentasikan November dan Desember 2010, teridentifikasi dua pasang induk badak beserta anaknya.

Dalam rekaman video November 2010, didokumentasikan keberadaan induk badak jawa dan anaknya berkelamin jantan berumur sekitar satu tahun. Kemudian pada awal Desember 2010 video berdurasi 30 detik mendokumentasikan induk badak jawa dengan anaknya dengan ukuran badan yang lebih besar yang diperkirakan berumur dua tahun.

“Bukti keberadaan dua anak badak ini merupakan penemuan penting karena memberikan infornasi dinamika populasi badak jawa di TNUK,” kata Agus Priambudi dalam siaran pers terkait penemuan dua anak badak jawa yang tertangkap kamera.

Menurutnya, dengan adanya bukti rekaman dua anak badak jawa tersebut, populasi badak jawa di TNUK tetap stabil pada kisaran 50 individu.

Menurut Agus mulai Februari 2011, pengelolaan dan penggunaan kamera dan video trap akan sepenuhnya dilakukan oleh TNUK, tidak lagi bersama WWF seperti sejak 2001 silam.

Sementara itu Project Leader Kantor WWF di Ujung Kulon Adhi Hariyadi mengatakan, WWF menyambut baik dan siap mendukung pengelolaan kamera dan video traf mulai 2010 oleh TNUK serta mentransper metode survei dan informasi penting yang telah dikumpulkan selama ini untuk menjamin pelaksanaan survei yang efektif dimasa yang akan datang.

Ia mengatakan, setelah berhasil mendeteksi 14 kelahiran badak jawa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dengan metode kamera dan video jebak, saat ini penelitian tentang badak jawa diarahkan untuk memperoleh informasi tentang pola perilaku, distribusi, keragaman genetika,asupan nutrisi serta resiko penyakit.

“Teridentifikasinya anak betina merupakan angin segar bagi upaya pelestarian spesies tersebut, karena selama ini mayoritas anak badak jawa yang berhasil di identifikasi adalah jantan,” kata Adhi.

Ia mengatakan, selama kurun waktu 10 tahun terakhir kelahiran badak jawa di TNUK diperkirakan sebanyak 14 kali, jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan dengan penemuan kasus kematian badak jawa dalam kurun waktu yang sama yakni sekitar sembilan kali penemuan kematian badak jawa.

(M045/M019/S026)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2011

 

Iklan