JAKARTA, KOMPAS.com – Departemen Kehutanan dan Bareskrim Polri menangkap pelaku perdagangan satwa liar dan dilindungi, yang diduga terkait dengan jaringan internasional. Pelaku menggunakan internet untuk memasarkan satwa-satwa yang telah diawetkan.

“Kami berhasil mengamankan AKM, pemilik Galeri IGF yang beralamat di Hotel Chitra Jl Toko Tiga Nomor 23, Jakarta Barat. Saat ini pelaku ditahan di Bareskrim Polri,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Darori, Kamis (10/2/2011) di Jakarta.

Beberapa barang yang disita dari galeri pelaku di antaranya, lima lembar kulit harimau, tengkorak beruang, sejumlah barang dari gading gajah, hingga tengkorak buaya. “Barang-barang ini diperdagangkan melalui internet untuk pasar di dalam negeri hingga luar negeri,” kata Darori.

Negara tujuan utama satwa liar ini adalah China. Sedangkan yang menjadi tempat transit adalah Malaysia.

Ketua Lembaga Advokasi Satwa, Irma Hermawati mengatakan, AKM diduga sebagai salah satu bandar besar dalam perdagangan satwa liar di Indonesia. “Banyak pelaku sebelumnya yang berhasil ditangkap menyebut keterlibatan dia,” kata Irma, yang lembaganya turut membantu operasi ini.

Irma menambahkan, penangkapan AKM merupakan modus perdagangan satwa menggunakan internet yang pertama kali berhasil dibongkar. “Perdagangan satwa liar menggunakan internet ini menjadi modus baru. Pelaku mencari pembeli dengan mengiklankan barang-barangnya di internet lalu mengirimkannya ke pembeli melalui jasa pengiriman komersial,” tuturnya.

Menurut Irma, pengungkapan kasus AKM ini merupakan fenomena gunung es. Perdagangan satwa liar ini masih marak terjadi, namun jarang terungkap. “Di setiap daerah ada jaringan dan pelaku perdagangan satwa liar ini,” katanya.