Pontianak, Kompas – Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat Brigade Bekantan Kalimantan Barat menahan dua truk tronton berisi kayu rimba campuran siap ekspor. Dokumen pengangkutan kayu olahan itu diduga tidak sah.

Komandan Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Bekantan Kalimantan Barat David Muhammad, Senin (17/1), mengatakan, kedua truk tronton ditahan pada hari Minggu saat menuju Pelabuhan Dwikora, Pontianak, untuk diekspor ke Korea Selatan.

”Ada informasi dari masyarakat dan intelijen tentang pengangkutan kayu olahan yang diduga menggunakan dokumen tidak sah,” kata David.

David menambahkan, masih ada dua tronton lagi yang dicari petugas karena dalam dokumen nota angkut kayu olahan (NAKO), kayu diangkut menggunakan empat tronton. ”Seharusnya satu dokumen NAKO digunakan untuk satu pengangkut, tetapi dokumen ini digunakan untuk empat tronton,” kata dia.

Kedua truk tronton yang membawa muatan dari Kabupaten Kubu Raya ditangkap di dua tempat berbeda di Kota Pontianak. Truk Nissan bernomor polisi KB 9392 AE yang dikemudikan SF ditangkap di Jalan Sidas. Adapun truk Isuzu dengan nomor polisi KB 7772 MB yang dikemudikan RB ditangkap di Jalan Adi Sucipto.

Kedua tronton yang ditahan itu membawa kayu olahan jenis rimba campuran sebesar 42 meter kubik. Dalam dokumen disebutkan, keempat tronton membawa 100 meter kubik kayu. Kayu itu diperkirakan bernilai Rp 10 juta per meter kubik.

Identitas pemilik

Penyidik SPORC meminta keterangan dua sopir dan pemilik kayu berinisial SG. ”SG yang menandatangani dokumen sebagai pemilik CV TI yang bekerja sama dengan perusahaan untuk mengolah kayu untuk diekspor. Namun, setelah kami cek ternyata SG tidak lagi terkait dengan CV TI,” kata David.

Pemilik CV TI, SH, menurut David, menyatakan bahwa SG sudah tidak memimpin CV TI sejak November 2010. ”SH juga menyatakan tidak pernah mengeluarkan kayu, apalagi bekerja sama dengan perusahaan untuk mengekspor kayu olahan. Dari pengakuan awal ini, kami akan mengembangkan lagi karena dokumen NAKO yang ditandatangani SG tidak menyebutkan asal kayu. Padahal, asal kayu itu penting agar kita tahu sah atau tidak kayu yang akan diekspor,” kata David.

Pengamat kehutanan Kalimantan Barat, Soenarno, mengatakan bahwa petugas harus menelusuri asal-usul kayu dengan cermat. ”Modus seperti ini pernah dipakai untuk menyelundupkan kayu,” kata dia.

Penelusuran, menurut Soenarno, tidak sulit dilakukan karena tinggal dicari runtutan dokumen ke belakang. Artinya, dokumen-dokumen yang diterangkan dalam NAKO tinggal diperiksa ulang sehingga dapat diketahui sah atau tidaknya kayu yang akan diekspor tersebut.(AHA)