Sumbawa Barat (ANTARA News) – Lebih dari 15.000 tukik (penyu) yang dikonservasi dalam penangkaran di Pantai Maluk, Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah dilepas ke laut dalam setahun terakhir.

“Sudah lebih 15.000 yang dilepaskan ke laut,” kata supervisor pengembangan masyarakat konservasi tukik, Basar di Sumbawa Barat, NTB, Jumat.

Konservasi tukik sudah dilakukan setahun terakhir itu atas dukungan dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) namun dikelola oleh masyarakat setempat.

Biasanya pelepasan tukik yang berusia sekitar tiga bulan dilakukan saat kunjungan pejabat atau pada hari-hari besar seperti peringatan hari kemerdekaan RI.

Menurut Basar, sebelum adanya pusat budidaya tukik di daerah tersebut, penyu itu diburu masyarakat untuk dikonsumsi terutama telurnya. Akibat perburuan itu, populasinya semakin berkurang.

Selain diburu, tingkat kemampuannya bertahan hidup setelah dilepas kembali ke laut juga sangat rendah sehingga jumlah yang dilepas dengan yang hidup berbeda jauh.

“Persentase hidup tukik hanya sekitar 10 persen,” kata Manajer Publik Relation PT NNT, Kasan Mulyono.

Upaya perusahaan tambang tersebut ikut dalam konservasi penyu sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan makhluk hidupnya di daerah konsesi.

Konservasi penyu tersebut juga turut mengubah kebiasaan masyarakat setempat mengkonsumsi telur penyu menjadi peduli dan mau melindungi keberlanjutan kehidupan mereka.

Pada 2006 sebanyak 7.000 telur tukik berhasil dilepaskan dan baru pada 2009 dilepas 1.000 tukik dilepas ke laut. Ditargetkan pada 2010 sebanyak 10.000 tukik dilepas.

“Malah sekarang jumlah tukik yang dilepas ke laut sudah melebihi target, dan masyarakat sudah mulai menghilangkan kebiasaan konsumsi telur penyu,” tambahnya.
(D016/S019)

COPYRIGHT © 2010