Tuesday, 23 November 2010

Hasil evaluasi kegiatan G. Bromo di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, sebagai berikut :

Pendahuluan

G. Bromo secara geografis berada pada posisi 7º 56’ 30” LS dan 112º 37’ 00” BT     dengan tinggi puncaknya 2329 meter dari permukaan laut. Sedangkan secara administratif terletak di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan G. Bromo umumnya dicirikan oleh hembusan asap kawah berwarna putih tipis sampai putih tebal, tekanan lemah dengan ketinggian berkisar antara 75 – 150 meter dari puncak, bau belerang tercium tajam.

I. KEGEMPAAN

Pengamatan kegempaan G. Bromo dipantau dengan menggunakan seismograf PS-2 secara telemetri selama November 2010 sebagai berikut:

  • Tanggal 1 – 7 November 2010, 2 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 5 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal 8 – 14 November 2010, 540 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 66 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali gempa Tektonik Lokal (TL), 5 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 2 kali gempa Tremor dengan amplituda maksimum 2 – 3 mm
  • Tanggal 15 – 21 November 2010, 354 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 10 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 6 kali gempa Tektonik Jauh (TJ). Gempa Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1,5 – 3 mm.
  • Tanggal 22 November 2010, Gempa Tremor menerus dengan amplituda maksimum 2 – 3 mm, Pukul 16:00 WIB Gempa Tremor dengan amplituda maksimum 5 – 7 mm,
  • Tanggal 23 November 2010, pukul 03:00 WIB Gempa Tremor menerus dengan amplituda maksimum 10 – 15 mm dengan dominasi 11 mm. Pukul 06:51 WIB Gempa Tremor menerus dengan amplituda maksimum 15 mm.
  • Tanggal 23 November 2010, pukul :11.00 WIB Gempa Tremor menerus dengan amplituda maksimum 30 mm.

II. VISUAL

  • Tanggal  1 – 7 November 2010 visual ke arah puncak G. Bromo tertutup kabut pada saat cuaca cerah teramati hembusan asap berwarna putih tipis- putih sedang, tekanan lemah, tinggi 75 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.
  • Tanggal 8 – 15 November 2010 teramati hembusan asap berwarna putih tipis – putih sedang, tekanan lemah – sedang, tinggi 100 – 150 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.
  • Tanggal 16 – 21 November 2010 teramati hembusan asap berwarna putih sedang – putih tebal, tekanan sedang – kuat, tinggi 100 – 250 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.
  • Tanggal 22 – 23 November 2010 teramati hebusan asap berwarna putih sedang – putih tebal, tekanan kuat tinggi 250 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.
  • Tanggal 23 November 2010 teramati hebusan asap berwarna putih tebal keabuan, tekanan sedang, tinggi 200-300 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.

I. Potensi Bahaya

  1. Aktivitas letusan G. Bromo tahun 2004 berlangsung singkat dengan karakter letusan freatik dan ciri-ciri awal yang kurang jelas.

Ciri aktivitas dan resiko erupsi bencana G. Bromo:
2. Hembusan asap berwarna putih tipis tekanan lemah, tinggi 100 – 150 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.
3. G. Bromo mempunyai potensi letusan freatik yang tiba-tiba, di sisi lain menarik kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.II. Kesimpulan

  1. Aktivitas Gempa Vulkanik meningkat sejak tanggal 8 November 2010 dan aktivitas tremor mulai meningkat sejak tanggal 23 November 2010 pukul 11.00 WIB.
  2. Kegiatan Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan Gempa Vulkanik Dangkal (VB) secara fluktuatif terus meningkat. Sejak tanggal 8 November 2010 mulai tercatat Tremor Vulkanik.
  3. Berdasarkan pengamatan data kegempaan dan visual serta analisis data tersebut, status kegiatan G. Bromo dinaikkan dari SIAGA (Level III) menjadi AWAS (Level IV) sejak   23 November 2010 pukul 15.30 WIB.
  4. Status kegiatan G. Bromo akan dinaikkan/diturunkan jika terjadi peningkatan/penurunan aktivitas yang terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Pos Pengamatan G. Bromo.

III. Rekomendasi

Sehubungan dengan status “AWAS” G. Bromo, maka direkomendasikan :

  1. Masyarakat di sekitar G. Bromo diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Bromo. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi tentang aktivitas G. Bromo dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (BPBD) dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo (selaku SATLAK PB).
  2. Guna mengurangi resiko bencana erupsi G. Bromo, maka kawasan wisata Bromo yaitu Kaldera Bromo (lautan pasir) harus ditutup dari segala aktivitas.
  3. Pemerintah daerah senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Bromo di Desa Ngadisari, Cemoro Lawang, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.