Selasa, 9 November 2010 21:16 WIB | Warta Bumi | Konservasi/Pelestarian | Dibaca 1337 kali

Seekor burung merak/ilustrasi. (ANTARA/Hari Atmoko)Bogor (ANTARA News) – Sejumlah spesies burung asli penghuni Gunung Merapi terancam punah akibat erupsi gunung tersebut sejak 26 Oktober, kata pakar satwa burung LIPI, Dr Dewi M Prawiradilaga di Bogor, Selasa.

Menurut Dewi, tidak mustahil erupsi tersebut berdampak pada kepunahan banyak jenis burung khususnya burung yang hidup dipermukaan tanah dan semak-semak.

“Karena kemampuan terbang mereka terbatas yaitu hanya mampu terbang dalam jarak pendek dan tidak tinggi.,” katanya.

Lain halnya dengan burung-burung yang menghuni tajuk pohon dan mampu terbang jauh serta tinggi, mereka dapat menghindar dari letusan Gunung Merapi.

Dia mengungkapkan, sebelum erupsi besar yang terjadi tahun ini, kawasan Merapi dihuni oleh sekitar 152 jenis burung.

“Sekitar 22 jenis burung di antaranya, atau kurang lebih 14 persen jumlah jenis total disana merupakan jenis burung asli Pulau Jawa atau endemik dan tidak dijumpai dipulau atau tempat lain,” katanya.

Jumlah jenis endemik tersebut cukup tinggi karena sekitar 70 persen dari total jenis endemik Pulau Jawa yaitu 34 jenis.

Burung endemik Jawa yang menghuni Merapi antara lain Elang Jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924), satwa langka yang terancam punah yang dilindungi KEPPRES No. 4 tahun 1993 dan PP No.7 tahun 1999.

Jenis burung endemik lainnya penghuni Merapi yang sudah dilindungi PP No. 7 tahun 1999 adalah Berencet wergan (Alcippe pyrrhoptera, burung poksai kuda, Opior Jawa Lophozosterops javanicus, Takur tohtor Megalaima armillaris Temminck.

Kemudian , Takur bututut Megalaima corvina Temminck, Tulung tumpuk Megalaima javensis Horsfield, Kipasan bukit Rhipidura euryura, Kipasan ekor merah Rhipidura phoenicura, Tepus dada putih Stachyris grammiceps dan Tepus pipi perak Stachyris melanothorax.

Dewi mengatakan, Gunung Merapi merupakan salah satu lokasi penting tujuan pengamatan burung di Yogyakarta oleh Paguyuban Pengamat Burung Yogya.

Paguyuban Pengamat Burung Jogja tersebut telah mencatat kehadiran ratusan ekor elang bermigrasi yang sudah datang di kawasan Merapi. Tetapi setelah erupsi yang besar, tidak terlihat di sekitar kawasan. Kemungkinan para pengunjung tersebut pergi ke lokasi hutan yang lain untuk menghindari bahaya dari erupsi.

“Kemungkinan burung-burung tersebut pergi ke lokasi hutan yang lain untuk menghindari bahaya dari erupsi. Namun sulit untuk melacak kemana mereka perginya secara pasti apabila kita tidak menandai atau memasangkan transmitter ditubuhnya,” katanya.

Secara alami, tambahnya, burung memiliki instink untuk menghindari bahaya yang mengancam seperti bencana alam.

“Interaksi mereka dengan alam atau habitatnya sangat kuat. Mereka memiliki suara yang bisa menyampaikan pesan kepada kelompoknya apabila kondisi bahaya. Perilaku atau gerak tubuhnya pun dapat mencerminkan situasi saat itu,” katanya.

(T004/A011/S026)
COPYRIGHT © 2010