Rabu, 6 Oktober 2010 | 23:58 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com – Harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumatrae), hewan langka yang dilindungi, membuat resah lagi warga Kaur, Provinsi Bengkulu.Warga di beberapa desa antara lain Desa Suku Tiga, Kecamatan Nasal cemas akibat harimau itu memangsa tiga ternak. Itu sebabnya, Wakil Ketua DPRD Kaur, Zulkifli H Djafar, meminta agar hewan yang semakin mendekati punah itu ditembak saja.

Menurut Zulkifli di Bengkulu, Rabu (6/10/2010), usai memangsa ternak kambing, harimau itu masih berkeliaran di sekitar desa, akibatnya masyarakat cemas sehingga mengganggu aktivitasnya sebagai petani.

“Kami belum melihat tindak dari Balai Konservasi sumber Daya Alam (BKSDA) yang serius untuk mengusir atau menangkap harimau tersebut,” katanya.

Dia berpendapat, bagaimanapun jiwa manusia lebih berharga daripada hewan. Disebutkan, akhir-akhir ini warga sering bertemu harimau saat hendak ke kebun dan malam harinya binatang buas itu berkeliaran masuk kampung mencari mangsa.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Kaur, Ir Lelkamsi Sitorus mengatakan, pihaknya sudah menurunkan tim ke lokasi sejak ada laporan dari masyarakat beberapa hari lalu. “Namun sampai sekarang sedang berupaya mengusir harimau tersebut,” katanya.

Kendati demikian, dia tidak setuju saran anggota DPRD agar harimau itu ditembak mati, karena di samping belum mencederai manusia, keberadaan desa itu statusnya memang masih kawasan hutan produksi terbatas (HPT).

Masyarakat di beberapa desa diwilayah itu sudah dianjurkan setiap malam menghidupkan api unggun dan membunyikan suara gentongan agar harimau itu tidak mendekat ke perkampungan.

Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu Andi Basrah didampingi Kabag TU Supartono, mengatakan,

sudah berupaya mengusir dengan memasang kerangkeng di beberapa lokasi.

“Namun harimau itu, kan, cerdik, mana mungkin serta merta masuk dalam kerangkeng tanpa ada umpan. Selain itu, jumlahnya tidak hanya satu ekor, sedangkan lokasi di dua desa daerah itu cukup luas,” katanya

Dia mengatakan, mengusir harimau itu tidak gampang, karena desa tersebut merupakan habitatnya sejak dulu, tetapi sekarang menjadi areal perkebunan dan perkampungan.

“Kecuali harimau itu berkeliaran dalam kampung di luar kawasan, namun demikian kami tetap berupaya mengusir dan menangkap binatang buas itu, dengan tidak mencerai tubuhnya,” ujarnya.

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2010/10/06/2358206/Anggota.DPRD.Suruh.Tembak.Harimau.Langka-3