Rabu, 14 Oktober 2009 | 18:14 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Irma Tambunan

JAMBI, KOMPAS.com — Sebanyak 16 orangutan sumatera atau Pongo abelii, yang menjadi korban perdagangan satwa liar, akan menjalani pelepasliaran ke habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi. Pelepasliaran ini bertujuan mempertahankan kelangsungan hidup orangutan dari ancaman kepunahan.  

“Mereka dilepasliarkan secara bertahap pada tahun ini. Tiga orangutan yang dilepas pada Jumat (16/10) adalah Caroline, Petra, dan Pinky. Lainnya dilepas pada bulan berikutnya,” ujar Julius Paolo Siregar, Manajer Stasiun Pusat Reintroduksi Orangutan Sumatera Frankfurt Zoological Society (FZS), Rabu (14/10) di Jambi.

Ketiga orangutan tersebut berusia sekitar lima tahun. Mereka telah menjadi korban perdagangan satwa liar sejak bayi, tetapi berhasil diselamatkan petugas kehutanan. Sebelum dilepasliarkan, mereka terlebih dulu menjalani pengobatan, serta reintroduksi atau rehabilitasi yang bertujuan mengembalikan kemampuan adaptasinya dengan alam bebas.

Setelah dilepasliarkan, lanjut Julius, semua orangutan masih akan dipantau oleh petugas FZS, termasuk warga suku terasing Talang Mamak yang diberdayakan menjadi pengasuh orangutan. Pemantauan bertujuan untuk memastikan bahwa orangutan yang telah dilepas dapat bertahan hidup, dengan memperoleh cukup makanan dan sumber air yang memadai. Petugas menyesuaikan masa pelepasliaran dengan datangnya musim buah dalam hutan.

Pelepasan orangutan ke habitat aslinya merupakan bagian dari program konservasi orangutan sumatera, kerja sama Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan dengan FZS, Yayasan Paneco, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL). Masing-masing lembaga memiliki tanggung jawab berbeda, mulai pada upaya penyitaan orangutan dari tangan pemiliknya, rehabilitasi medis, sampai pengenalan kembali orangutan pada habitat aslinya.

Menurut Julius, menfasilitasi orangutan beradaptasi dengan habitat aslinya tidak mudah. Sebagian orangutan telah terbiasa diberi makan oleh pemiliknya sehingga menjadi pasif setelah tiba di hutan. Mereka terancam sakit dan mati jika tidak memperoleh asupan makanan memadai dalam hutan. Karena itu, reintroduksi atau rehabilitasi menjadi salah satu upaya menjaga keberlanjutan spesies orangutan.

Mengingat keberadaannya yang hampir punah, banyak pendonor bersimpati dan menyisihkan dana mereka. Berdasarkan catatan Kompas, dana yang dikeluarkan untuk satu tahun melatih serta memberi makan dan obat mencapai 5.000 dollar AS per orangutan.