PALANGKA RAYA – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui Seksi Konservasi Wilayah II di Pangkalan Bun telah menghentikan pemagaran di dalam kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Sungai Lamandau. Kawasan seluas 18 hektar ini sebelumnya dipagari oleh Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan PramukaKabupaten Sukamara, terkait dengan rencana pendirian Bumi PerkemahanPramuka Kabupaten Sukamara.

“Penghentian pemagaran ini kami lakukan setelah ada kesepakatan bersama kwarcab. Mereka berjanji akan memindahkan pemagaran di luar batas suaka margasatwa,” kata Kepala BKSDA Kalteng Mega Hariyanto melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Pangkalan Bun, Eko Novi M.Si kepada kapos, Jumat (1/5).

Dijelaskannya, pemagaran dengan menggunakan kawat berduri dan kayu ulin tersebut dapat digolongkan sebagai perambahan kawasan bertentangan dengan pasal 50 ayat (3) huruf j juncto pasal 78 ayat (4) UU 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, pemagaran tersebut juga mengganggu habitat satwa seperti Rusa, Beruang Madu dan beberapa jenis burung yang ada di dalam Suaka Margasatwa Sungai Lamandau.

Terkait penghentian pemagaran itu, terangnya, BKSDA telah mengadakan pendekatan secara persuasif sejak bulan Maret lalu, dengan difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukamara dan Kemitraan Pelestarian Ekosistem Lamandau (KPEL). Hasilnya, pada tanggal 29 April 2009 telah disepakati pagar yang masuk dalam kawasan konservasi SM Sungai Lamandau akan dipindah keluar kawasan.

Ia juga menjelaskan, SKW II BKSDA Kalteng bersama denga KPEL, sepanjang akhir bulan April telah memadamkan kebakaran hutan sebanyak 7 titik api yang berada di sekitar Danau Burung wilayah SM Sungai Lamandau.

Menurutnya, pembakaran padang rumput dalam suaka margasatwa tersebut diduga kuat dilakukan oleh pemburu. Alasannya, tindakan ini sebagai upaya memikat hewan buruan. Karena setelah 2 – 3 hari usai kebakaran, lokasi tersebut akan tumbuh rumput baru yang disukai oleh rusa.

“Di lokasi tumbuhnya rumput baru ini memudahkan pemburu untuk menembak, biasanya dengan senjata rakitan atau senjata lantak,” ujar Eko.

Mengeliminir tindakan ini, tim-nya pun meningkatkan patroli regu Manggala Agni ke lokasi tersebut. Bahkan pihaknya, bekerjasama mengadakan patroli bersama Polisi Kehutanan untuk mencari pemburu yang melakukan pemburuan. Pihaknya pun kami sudah minta batuan Polres Sukamara dalam hal pengawasan senjata lantak yang sering digunakan untuk berburu.

Ditegaskannya, kebakaran yang disengaja, menurut pasal 50 ayat (3) huruf d juncto pasal 78 ayat (3) UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Pembakaran hutan di kawasan konservasi dapat dikenakan ancaman pidana hukuman 15 tahun penjaran dan denda maksimal 5 milyar rupiah. (ust)