http://www.kompas.com
Tujuh Ekor Trenggiling Kembali ke Alam Bebas
RABU, 8 APRIL 2009 | 22:48 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Rabu (8/4), melepas tujuh ekor satwa trenggiling (Manis javanica) ke habitatnya di Cagar Alam Taba Penanjung, Bengkulu Utara.
Ketujuh ekor satwa dilindungi itu sebelumnya diselamatkan sekaligus menjadi barang bukti atas penangkapan LP (40), warga Kota Bengkulu yang selama ini memperdagangkan satwa dilindungi itu. LP saat ini menjadi tahanan Polda Bengkulu.
Kabag Tata Usaha BKSDA Supartono di sela-sela pelepasan itu mengatakan, satwa tersebut tidak bisa berlama-lama berada di dalam kandang karena bisa mengakibatkan kematian. “Makanannya berupa semut dan hewan kecil lainnya yang lumayan susah didapat, jadi kita langsung melepas ke habitatnya,” katanya.
Pelepasan tujuh ekor satwa tersebut juga disaksikan tiga personel Polda Bengkulu yang dipimpin AKP Hari Irawan. “Kita ikut menyaksikan pelepasan satwa ini ke habitatnya setelah diambil data dan dokumentasi sebagai barang bukti,” katanya.
Sesaat setelah dilepaskan, tujuh ekor satwa yang dilepas ke habitatnya itu langsung menuju hutan cagar alam dan sebagian memanjat pohon untuk mencari makanan.
Pengampanye LSM ProFauna Indonesia Tri Prayudhi mengatakan, dengan kasus ini seharusnya pihak KSDA Bengkulu lebih fokus dalam mengawasi aktivitas pengumpul dan penangkap satwa. “Dari data kita, tersangka ini merupakan salah satu dari 12 pengumpul dan penangkap satwa yang memiliki izin dari KSDA, memang izin yang diberikan untuk penangkapan dan pengumpulan satwa yang tidak dilindungi seperti ular sawah dan lainnya,” katanya.
Bahkan ProFauna, kata dia, melihat bahwa ada indikasi oknum petugas KSDA terlibat dalam pemberian izin penangkapan dan pengumpulan satwa liar tersebut. “Mereka hanya memberi izin, namun tidak ada upaya pemantauan dan evaluasi. Dari 12 izin yang dikeluarkan oleh KSDA tahun 2006 untuk para pengusaha pengumpul dan penangkap, dari hasil investigasi kita, merupakan pemain lama perdagangan satwa liar yang dilindungi khususnya trenggiling, ” katanya.
Tri mengatakan, seharusnya Departemen Kehutanan dalam hal ini Dirjen PHKA harus mengevaluasi dan melakukan penyidikan terhadap kasus ini karena adanya indikasi keterlibatan oknum petugas KSDA di Bengkulu.

XVD
Sumber : Ant