Selasa, 7 April 2009 (Kalteng Post)
Dibelah, di Dalam Perut Ditemukan Jaring, Batu
Habitat Rusak Diduga Picu Seringnya Buaya Muncul
PALANGKA RAYA – Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng di Pangkalan Bun, melakukan nekropsi (semacam otopsi pada manusia) terhadap bangkai buaya muara (crocodylus porosus) dengan panjang 4 meter Senin (6/4).

Nekropsi buaya ini dilakukan untuk mencari tahu penyebab kematian binatang buas ini dengan dibantu dokter hewan setempat, dan dilakukan di kantor BKSDA. Buaya ini sebelumnya diamankan petugas dari Budi bin Hartono seorang nelayan warga Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan.

Awalnya, buaya tersebut terjerat jaring di sekitar muara sungai Batang Bahalang Seruyan pada Sabtu (3/4) lalu. Ketika ditarik oleh nelayan dari muara sungai buaya berjenis kelamin jantan itu akhirnya mati.

“Hasil nekropsi, dalam perut buaya terdapat potongan-potongan jaring, tali, batu serta ikan. Rupanya buaya ini mau makan ikan yang ada dalam jaring nelayan,” kata Kepala Seksi wilayah 2 BKSDA Kalteng Eko Novi Setiawan M.Si, saat menghubungi koran ini.

Dijelaskannya, nelayan di Kabupaten Seruyan sepanjang awal tahun 2009 telah beberapa kali mengangkat buaya dari jaring mereka. Menurut Eko, adanya kasus-kasus buaya yang masuk ke dalam jaring nelayan antara lain disebabkan oleh kerusakan habitat buaya yang ada di wilayah Seruyan.

Hal ini diindikasikan dengan adanya penebangan pohon bakau di sekitar muara serta rusaknya mangrove (tumbuhan tepi pantai) di sekitar sungai akibat pembukaan tambak. BKSDA telah mengimbau agar habitat buaya di sekitar muara tidak dirusak dengan kegiatan penebangan/pemanfaa tan lain yang bisa menganggu.

Buaya Muara berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 (UU No.5/1990) tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP 8 tahun 1999 termasuk binatang yang dilindungi. Penangkapan maupun pemanfaatan bagian-bagiannya dapat dikenakan ancaman pidana maksimal 5 tahun dan denda maksimal 100 juta.

“Sebagai langkah antisipasi sebaiknya Seruyan mengupayakan adanya kawasan lindung, untuk menjaga habitat buaya. Misalnya dengan memasukkan kawasan itu dalam rencana tata ruang wilayahnya,” harap Eko.

Ia menyebut untuk menjadikan sebuah wilayah menjadi kawasan lindung memang perlu waktu. Apalagi jika itu menyangkut kebijakan pembukaan lahan. Namun jika tidak diantisipasi sejak dini, maka buaya akan terus bermunculan karena habitatnya terganggu. Dikhawatirkan nantinya malah bisa berakibat fatal. Karena rantai makanannya terganggu buaya malah menyerang manusia. (ust)

Iklan