Rabu, 11 Februari 2009 | 19:35 WIB

JAMBI, RABU — Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina tertangkap dalam jebakan milik tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Rabu (11/2). Harimau yang sebelumnya diketahui menerkam tiga warga di Sungai Gelam, Muaro Jambi, hingga tewas ini, akan dikarantina dan kemudian dilepas kembali ke habitat yang lebih aman.

Dari jebakannya yang dipasang dalam kawasan eks hak pemanfaatan hutan (HPH) Rimba Karya Indah, harimau diangkut menggunakan truk, dan kemudian menempuh perjalanan hampir enam jam mencapai kantor BKSDA di Kota Jambi pada pukul 17.00. Harimau dewasa berukuran berat lebih dari 300 kilogram dan panjang dua meter tersebut menggeram keras berulang kali karena begitu banyak orang mengerumuni.

Kepala BKSDA Jambi Didi Wurjanto menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa menangkap harimau karena desakan masyarakat sangat kuat. “Masyarakat khawatir akan bertambah korban lagi yang diterkam harimau tersebut,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, harimau yang sama menerkam tiga warga Desa Sungai Gelam dan Pematang Raman pada akhir Januari lalu. Para korban adalah perambah hutan dan pencari jelutung yang masuk ke dalam teritori harimau.

Menurut Didi, harimau adalah jenis satwa yang tidak memiliki kebiasaan memangsa manusia. Sifat agresifnya yang di luar kebiasaan ini diduga akibat ada warga yang sebelumnya menangkap bayi dari harimau betina tersebut. Dugaan ini dikuatkan dengan kondisi fisik puting harimau yang masih membesar.

“Kami menduga harimau betina ini masih menyusui bayinya. Dia diperkirakan amat marah mengetahui bayinya dicuri, sehingga kemudian bertindak sangat agresif terhadap manusia,” katanya.

Didi melanjutkan, penangkapan dilakukan sebagai upaya untuk menghindari maraknya perburuan liar terhadap harimau tersebut. “Kami perlu menjaga harimau ini dari aksi perburuan. Para pemburu tentu mengincarnya, setelah informasi keberadaannya makin merebak,” tambah Didi.

Setelah ditangkap, harimau akan dikarantina di Kebun Binatang Taman Rimbo Kota Jambi. Setelah kondisinya membaik, barulah harimau akan dikembalikan ke habitat aslinya yang berjarak lebih jauh dari jangkauan manusia.

Aktivis konservasi harimau sumatera, Debby Martyr, menilai tindakan BKSDA Jambi untuk mengarantina harimau tersebut sudah benar dan sesuai dengan strategi konservasi.

“Kita memang tidak bisa lagi terlalu romantis. Keberadaan harimau berdekatan dengan manusia, dapat sangat membahayakan manusia. Juga membahayakan harimau itu sendiri dari perburuan liar,” ujarnya.

Debby menambahkan, pemerintah selanjutnya perlu mempertimbangkan kawasan mana yang cocok untuk harimau tersebut dilepaskan sehingga dapat hidup aman tanpa gangguan manusia.

Ia memperkirakan saat ini populasi harimau sumatera mencapai kurang dari 400 ekor. Jambi termasuk kawasan penting dalam konservasi harimau di Pulau Sumatera. Populasi harimau masih cukup banyak di Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, dan Taman Nasional Kerinci Seblat. (ITA)