Memasuki usia yang ke-3 SPORC yang dibentuk sejak tahun 2005 telah menunjukan prestasi gemilangnya dengan terlaksananya operasi penyitaan di Pasar Satwa Jatinegara yang dilakukan oleh Tim SPORC Brigade Elang pada tanggal 03 Februari 2008. Operasi penyitaan tersebut juga didukung oleh tim Korwas PPNS, Reskrimsus Sumdaling, Polda Metro Jaya.

Sebelum dilakukan operasi penyitaan tim telah mengumpulkan data dari berbagai sumber. Menurut pemantauan ProFauna Indonesia, Pasar Burung Jatinegara adalah pasar burung yang banyak menjual satwa dilidungi secara terbuka diibandingkan dengan di Pasar Burung Pramuka yang lebih tertutup.

SPORC merupakan satuan polhut khusus yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan kompetensi Polhut reguler. Terbukti dalam operasi penyitaan tersebut berhasil diamankan 2 (dua) orang pedagang satwa liar dilindungi undang-undang disertai dengan 15 (lima belas) ekor barang bukti satwa liar dilindungi undang-undang yang terdiri dari 2 (dua) ekor Kucing Hutan (Felis bengalensis), 8 (delapan) ekor Kukang (Nycticebus coucang), 2 (dua) ekor Landak (Hystrix brachyura), 1 (ekor) Musang Air (Cynogole bennetti), dan 2 (dua) ekor Elang Tikus (Elanus caeruleus) yang sekarang dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur. Kondisi beberapa satwa tersebut sangat mengkhawatirkan seperti luka dialami oleh Landak dan cacat mata kanan dari seekor Kukang dewasa.

Dua orang pedagang yang diamankan tersebut, yaitu Agus Sobari dan Sarwo, sekarang sudah di tahan selama menjalani proses penyidikan di Polda Metro Jaya dan penyidikan pun dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil dari SPORC dibawah pengawasan penyidik kepolisian Sumdaling Polda Metro Jaya. Menurut Irma, Direktur Eksekutif LASA, “ancaman hukuman yang akan diterima kedua pelaku tersebut berdasarkan Pasal 40 (2) UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya adalah pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal Rp. 100 juta rupiah”.

Sebagai Pembina SPORC Brigade Elang, Bapak Joko Prihatno, mengucapkan, “selamat kepada timnya dan diharapkan proses hukum bisa terus berjalan sehingga akan memberikan efek jera terhadap pelaku lainnya”. Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Internasional Animal Rescue, Femke Den Haas, sebagai pihak yang mendukung berjalannya proses penyitaan tersebut, “bahwa diharapkan kegiatan ini merupakan awal kerjasama untuk proses penegakan hukum terhadap para pelaku pedagang satwa liar dilindungi undang-undang dan tidak hanya dilakukan satu kali saja karena masih banyak pedagang-pedagang besar lainnya yang harus ditindak tegas”.

Rosek Nursahid, Chairman ProFauna Indonesia, menambahkan, “Penyitaan satwa di Jatinegara tersebut diharapkan juga dilakukan di pasar burung lain yang sering menjual satwa dilindungi seperti Pramuka Jakarta dan beberapa pasar burung di Surabaya”. Pasar Burung Pramuka dan Surabaya termasuk pasar burung besar yang sering menjual satwa dilindungi, namun seperti tidak tersentuh oleh hukum Indonesia. Padahal secara jelas di UU no 5 tahun 1990 perdagangan satwa dilindungi adalah dilarang.