Harimau sumatera di BKSDA AcehSabtu, 17 Januari 2009 | 18:20 WIB BANDA ACEH, SABTU – Pakar konservasi hutan dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof Dr Ir Yuswar Yunus MP mengingatkan aparat lembaga terkait di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) agar tidak arogan dalam menangani hewan langka. “Sikap arogan yang sering dipertontonkan sebagian oknum dalam penanganan satwa liar yang dilindungi itu dapat merusak citra daerah, sehingga ke depan dalam setiap kebijakan yang dilakukan harus ada koordinasi agar tidak ada yang merasa dirugikan,” ungkap Prof Yuswar di Banda Aceh, Sabtu (17/1). Pernyataan itu disampaikan menanggapi adanya sebagian oknum yang bertindak sendiri dalam menangani hewan langka beberapa waktu lalu, sehingga menimbulkan reaksi keras dari pengamat dan pecinta lingkungan di provinsi ujung paling barat Indonesia ini. Yuswar yang juga Direktur Program Yayasan Leuser Internasional (YLI) itu menyebut contoh kebijakan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NAD yang membawa keluar atau pindah lima harimau Aceh untuk dilepas di hutan Lampung sebagai bukti arogansi mereka. Pelepasan harimau asal Aceh yang pernah konflik dengan manusia ke Lampung dapat memunculkan beragam pendapat, terutama terkait dengan kondisi habitat hewan langka tersebut yang seolah-olah di hutan daerah ini keselamatan satwa itu semakin terancam. “Yang perlu diketahui, hutan Leuser yang luasnya 2,6 juta hektare masih cukup baik untuk habitat satwa liar yang dilindungi, baik harimau maupun gajah,” katanya. Hutan Leuser masih cukup baik, dan hingga saat ini masih merupakan dunianya hewan-hewan langka yang fenomenal sebagai hutan primer alami, karena mendapat dukungan peratawan dari Uni Eropa lewat Bank Dunia melalui Proyek Lingkungan dan Hutan Aceh (Aceh Forest Emviromment Project) yang ditangani Leuser International Fundation (LIF). Sedangkan hutan Ulu Masen (bahagian dari areal Taman Nasional Gunung Leuser-TNGL) yang luasnya 743.000 hektare juga berada di Aceh, ditangani Yayasan Flora Fauna International (FFI) dengan sumber dana yang sama di bawah pimpinan seorang warga Belanda. “LIF dan FFI tidak hanya merawat hutan yang menjadi paru-paru dunia, tetapi juga membantu untuk melindungi hewan-hewan langka, seperti harimau Sumatera, badak Sumatera, Orangutan, Beruang, Gajah, Rusa dan buaya,” katanya. Bukan itu saja, LIF dan FFI juga ikut membantu memberi makan harimau yang ditangkap pawang uteun (hutan) dan masyarakat serta anggota LIF bersama LSM “Rimueng Lamkalot” di Kabupaten Aceh Selatan turut memfasilitasi menangkap harimau-harimau yang konflik dengan manusia. Sebagai contoh disebutkan bantuan itu diberikan dalam wujud penyediaan perangkap atau biaya yang dibutuhkan untuk penangkapan, serta membantu biaya pengobatan bagi mereka yang terkena musibah. AC Sumber : Antara