Oleh : William Tengker

The Training Program For Young Leaders Tahun 2008 Bidang Konservasi Lingkungan adalah pelatihan yang disponsori oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia dan Japan International Cooperation Agency (JICA), yaitu sebuah program pelatihan yang bertema “The Training Programme For Young Leaders” Bidang Konservasi Lingkungan di Kota Obihiro, Hokkaido – Jepang.

Pelaksanaan pelatihan dimulai dari tanggal 4 Nopember s/d 21 Nopember 2008 dimana sebanyak 18 peserta pemuda-pemudi Indonesia dari berbagai instansi pemerintah baik pusat maupun daerah serta dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menekuni bidang konservasi lingkungan oleh Pemerintah Jepang melalui JICA Indonesia diajak ke Jepang untuk melihat bagaimana Negara Jepang mengelola lingkungan sekitarnya. Selama 18 (delapanbelas) hari kami mempelajari bagaimana suatu kota di Pulau Hokkaido, Jepang yaitu Kota Obihiro menata lingkungan sekitarnya sehingga menjadi suatu kota yang nyaman, bersih, sehat dan indah.

Kota Obihiro adalah salah satu kota dari 4 kota lainnya di Negara Jepang yang merupakan kota percontohan dalam pengelolaan lingkungan yang baik di Jepang. Peserta pelatihan selama di Kota Obihiro pada intinya mempelajari bagaimana pengelolaan sampah, pengelolaan limbah dan pengelolaan kawasan hutan serta bagaimana partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitarnya.

Pengelolaan Sampah

Sampah adalah masalah lingkungan yang paling serius dan paling mencemari lingkungan. Untuk penanganan masalah sampah di Kota Obihiro (dengan konsep Recycle, Reused, Reduce), pengelolaan sampah dilakukan dari rumah penduduk dimana kami diberi kesempatan untuk mengunjungi salah satu rumah penduduk yaitu Bpk. Uno (Uno san) dimana dirumah tersebut dilakukan pemilahan sampah yaitu sampah yang bisa dibakar, sampah tidak bisa dibakar dan sampah merugikan lingkungan. Setiap penduduk kota yang akan membuang sampah harus menggunakan kantong sampah khusus yang dibeli di toko-toko terdekat. Kantong sampah tersebut memiliki perbedaan yaitu kantong berwarna merah untuk sampah yang terbakar dan kantong berwarna biru untuk sampah yang tidak bisa dibakar. Harga dari kantong sampah bervariasi yaitu kantong ukuran 10 ltr = 30 yen = 3.000 rupiah*, ukuran 20 ltr = 60 yen = 6.000 rupiah*; kantong ukuran 30 ltr = 90 yen = 9.000 rupiah*; kantong ukuran 40 ltr = 120 yen = 12.000 rupiah*, sedangkan untuk sampah yang tidak bisa masuk ke kantong harus ditempeli stiker sampah seharga 600 yen/lembar = 60.000 rupiah* (Perhitungan kurs terendah 10 yen = 1.000 rupiah). Sedangkan untuk kantong sampah berwarna bening dibagikan gratis kepada warga kota dan dipergunakan untuk membuang sampah yang merugikan lingkungan seperti AKI, bohlam lampu, baterei dll. Semua sampah tersebut dikumpulkan di depan rumah pada hari dan tanggal yang telah ditentukan untuk diangkut oleh mobil sampah. Untuk sampah mentah seperti sisa makanan (sayur/ikan) dianjurkan kepada warga kota untuk membuat kompos di halaman belakang rumah.

Untuk sampah elektronik seperti TV, Kulkas termasuk Mobil yang akan dibuang, harus dibawa ke perusahan pengumpul dan pengolah (untuk dihancurkan) dan membayar sejumlah uang kepada perusahaan untuk mengolah/menghancurkan barang-barang tersebut.

Selain itu terdapat pula pemilahan terhadap sampah berguna atau disebut sebagai sampah sumber daya yaitu kertas koran, majalah, kardus/kotak dari kertas, kaleng besi/aluminium, dll, yang dikumpulkan oleh warga lingkungan di rumah Ketua Lingkungan (seperti RT/RW di Indonesia) untuk dijual kepada satu perusahaan yang ditunjuk oleh Pemerintah Kota Obihiro. Hasil penjualan sampah sumber daya ini menjadi dana kas lingkungan tersebut. Untuk lingkungan (RT/RW) rumah Uno san dengan total anggota 25 rumah, pada tahun 2007 mengumpulkan uang kas sebesar 48.578 yen (sekitar Rp. 4.857.800*).

Selanjutnya kami diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat pengolahan sampah sumber daya yaitu PT. WinClean yang mengelola sampah sumber daya tersebut menjadi barang yang berguna antara lain Glass Cullet (bahan dasar daur ulang botol beling), RPF (Refuse Paper & Plastic Fuel), Pellet (bahan dasar daur ulang plastik) dan Pet Flake (serpihan botol plastik) yang kemudian dijual kembali kepada perusahan-perusahan industri yang membutuhkan bahan-bahan tersebut.

Sedangkan untuk pengolahan mobil bekas kami diberi kesempatan untuk mengunjugi PT. ELV-Hokkaido yaitu suatu perusahaan yang melakukan pengolahan mobil bekas.

Beberapa rekan-rekan sangat tertarik dengan proses yang dilaksanakan disini, ternyata berbagai onderdil dari mobil bekas yang masih berguna dicopot, dikemas kembali dan dijual ke negara berkembang antara lain Indonesia, sedangkan bagian-bagian yang tidak berguna dihancurkan melalui mesin penghancur. Beberapa mobil yang “dibuang” oleh pemiliknya, jika dibandingkan dengan mobil yang beroperasi di Indonesia masih sangat bagus dan layak untuk digunakan, jika kita lihat dari umur kendaraan serta body kendaraan yang masih bagus.

Selain itu kami juga berkunjung ke pusat pengolahan sampah akhir yaitu “Kuririn Centre” dimana di tempat ini semua sampah dari rumah tangga dibakar serta ditimbun dilahan seluas 40 ha termasuk treatment/perawatan melalui mekanisme penjernihan terlebih dahulu terhadap air resapan dilahan penimbunan sebelum air resapan tersebut masuk ke sungai. Satu hal yang menarik di tempat ini yaitu betapa bersihnya pemandangan sekitar tempat tersebut jika kita membayangkan suatu tempat pengolahan sampah akhir yang terkesan sangat kotor, bau dan penuh lalat.

Pelajaran penting yang dapat dipetik yaitu bagaimana serius-nya pemerintah Kota Obihiro mengelola sampah rumah tangga yang merupakan masalah paling serius dan belum dapat diatasi di Indonesia, dimana Pemerintah Kota Obihiro menetapkan sejumlah aturan pengelolaan sampah yang mewajibkan setiap penduduk melakukan pemilahan sampah pada tingkat rumah tangga dan kemudian didukung dengan fasilitas pengolahan sampah yang memadai.

Terhadap pengelolaan sampah di kota Obihiro ada suatu hal yang menarik yaitu sepanjang kami keliling-keliling kota kami tidak menemukan tong sampah untuk umum selayaknya di Indonesia dimana terdapat tong sampah hampir di setiap sudut kota, namun di kota Obihiro walaupun tidak tersedia tong sampah umum, lingkungan kotanya sangat bersih disini tergambar betapa sadarnya penduduk kota untuk tidak membuang sampah sembarangan serta melakukan pembersihan di masing-masing lingkungannya sendiri, hal ini saya perhatikan di depan hotel washington tempat kami menginap terdapat sebuah kantor dimana pada setiap pagi hari sejumlah karyawan dengan memakai dasi dan jas yang cukup mentereng melakukan pembersihan di halaman kantor tersebut, suatu kebiasaan yang patut ditiru.

Pengelolaan Air Bersih

Air salah satu kebutuhan mendasar bagi setiap umat manusia, dengan konsep pemikiran tersebut Kota Obihiro melakukan pengelolaan air bersih secara maksimal, dimana kami sempat berkunjung ke tempat pengelolaan air bersih di Kota Obihiro yaitu “Inada Water”.

Inada Water melakukan pengelolaan air bersih yang bersumber dari air yang mengalir dibawah sungai Satsunai (salah satu sungai yang melintasi Kota Obihiro), dengan menggunakan metode air resapan sehingga air yang akan diolah menjadi air bersih telah memiliki kualitas air yang cukup bagus sehingga setelah dilakukan beberapa kali penyulingan maka air bersih yang mengalir ke rumah-rumah penduduk langsung dapat diminim tanpa harus dimasak terlebih dahulu.

Pengelolaan Limbah

Pengelolaan limbah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Obihiro adalah limbah buangan dari rumah tangga (dari tempat cucian, kamar mandi dan tolilet), fasilitas umum (termasuk rumah sakit), industri dan bahkan air dari selokan jalan raya (bekas air hujan dan salju yang mencair) sehingga diupayakan semua air buangan tidak langsung mengalir ke sungai akan tetapi dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum akhirnya dialiri ke sungai. Melalui pipa semua buangan dari rumah tangga (cucian, kamar mandi dan toilet), industri dan jalan raya dialirkan ke tempat pengolahan limbah tersebut.

Pada proses pengolahan air limbah ini akan menghasilkan endapan yang kemudian diproses oleh fasilitas ini diproses menjadi pupuk organik yang dibagikan kepada setiap masyarakat petani secara gratis yang kemudian digunakan pada lahan pertanian.

Dari pengelolaan limbah yang dilakukan di Kota Obihiro ini terlihat bagaimana air buangan sangat kotor dan beracun (air bersabun bekas cucian pada prinsipnya mengandung zat kimia) jika langsung dibuang ke alam (antara lain sungai) akan merusak lingkungan sekitar dan akan mengakibatkan kerusakan lingkungan walaupun lambat tapi pasti.

Kondisi di Indonesia untuk buangan dari industri merupakan kewajiban dari masing-masing industri tersebut akan tetapi untuk air buangan rumah tangga masih langsung dibuang ke alam (antara lain sungai), hal tersebut tentunya sedikit demi sedikit akan tetapi pasti akan mencemari lingkungan kita. Merupakan tugas berat bagi kita semua (baik masyarakat maupun pemerintah) untuk memikirkan bagaimana upaya yang harus dilakukan menangani masalah lingkungan tersebut.

Hutan Obihiro (Obihiro No-Mori)

Hutan Obohiro mempunyai luas 406,5 ha dan menjadi penghubung antara sungai Tokachi dengan sungai Satsunai. Hutan Obihiro pada prinsipnya berfungsi sebagai daerah hijau (green area) di Kota Obihiro, sebagai pencegah bencana serta tempat rekreasi masyarakat Kota Obihiro. Kawasan Hutan Obihiro dahulunya adalah merupakan lahan pertanian yang kemudian dibeli oleh Pemerintah Obihiro.

Konsep Hutan Obihiro di pelopori oleh Walikota Obihiro yang kelima yaitu Hiroshi Yoshimura pada tahun 1959 dengan mengikuti konsep Hutan Wien di Austria dengan konsep mendekatkan hutan kepada masyarakat, dimana warga Kota Wien turut menjaga kelestarian kawasan hutan tersebut. Melalui berbagai pertimbangan sampai dengan tahun 1970, Pemerintah Kota Obihiro bersama Dewan Pertimbangan Kota Obihiro membuat suatu rencana gabungan untuk pembangunan “Hutan Obihiro (Obihiro No-Mori)”.

Berbagai jenis tumbuhan yang ditanam di kawasan Hutan Obihiro merupakan tanaman asli daerah tersebut yaitu Querus dentata dan Querus crispula, Ulmus davidiana var japonica, Fraxinus mandshurica, Alnus japonica, dan lainnya yang pada umumnya adalah tanaman berdaun jarum.

Penataan kawasan Hutan Obihiro dibagi dalam 8 (delapan) blok, dengan bilengkapi berbagai fasilitas umum didalamnya yaitu tempat parkir, toilet, tempat air minum, kran pemadam kebakaran, papan petunjuk serta fasilitas olahraga dengan presentasi pembagian area antara area hutan dan area fasilitas sebesar 8 : 2. Dimana pembagian blok Hutan Obihiro sebagai berikut :

Blok 1 : Area Kehutanan (Hutan Tanah Kelahiran), dengan luas 25,8 ha.

Blok 2 : Area Pembibitan (Hutan Sekolah Alami), dengan luas 23,9 ha.

Blok 3 : Area Penanaman Pohon Peringatan (Hutan Peringatan), dengan luas 57,4 ha.

Blok 4 : Area Fasilitas Olahraga (Hutan Olahraga), dengan luas 80.0 ha.

Blok 5 : Area Kehutanan (Hutan Kreatifitas), dengan luas 42,9 ha.

Blok 6 : Area Kehutanan (Hutan Rekreasi), dengan luas 75,1 ha.

Blok 7 : Area Kehutanan (Hutan Tanah Kelahiran), dengan luas 58,0 ha.

Blok 8 : Area Kehutanan (Hutan Tanah Kelahiran), dengan luas 43,4 ha.

Berbagai kegiatan dari masyarakat dan Pemerintah Kota Obihiro dilaksanakan di Hutan Obihiro ini antara lain yaitu Festival Penanaman Pohon. Selain itu Hutan Obihiro ini juga menjadi pusat rekreasi bagi masyarakat Kota Obihiro serta berbagai macam kegiatan masyarakat kota, dimana pada saat disana kami sempat mengikuti kegiatan pembuatan “Christmas Wreath”, yaitu pembuatan kerajinan tangan berupa hiasan dinding untuk menyambut hari raya Natal, serta kegiatan penjarangan pohon sebagai salah satu program Pemerintah Kota Obihiro.

Taman Nasional Daisetzusan

Salah tempat yang kami mengujungi kawasan Taman Nasional Daisetzusan di daerah Nukabira. Taman Nasional Daisetzusan diresmikan pada tahun 1934 dan merupakan taman nasional terbesar di Jepang, dimana pada saat kami berkunjung di taman nasional ini, suhu udara mencapai minus 100 celcius, yang notabene hampir seluruh kawasan ditutupi dengan salju yang cukup tebal.

Potensi kawasan yang cukup tinggi dengan beranekaragam jenis satwa dan untuk tumbuhan yang paling dominan yang tumbuhan berdaun jarum.

Untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional Daizetsusan dibagi dalam 3 (tiga) zona yaitu 2 (dua) zona pemanfaatan dan 1 (satu) zona diperuntukkan sebagai “restricted area”, atau zona inti yang benar-benar dijaga keutuhannya.

Di zona pemanfaatan taman nasional dapat digunakan untuk berbagai pembangunan yang mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar yaitu pembangkit tenaga listrik, bendungan dan jalan raya, dengan konstruksi yang memperhatikan keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut dan bahkan untuk masyarakat asli dapat tetap tinggal dikawasan tersebut dengan lokasi yang telah ditentukan. Dikawasan taman nasional ini dapat dilakukan kegiatan penebangan / produksi kayu dan terdapat kurang lebih 200 (dua ratus) orang ranger (Polisi Kehutanan) yang bertugas untuk menjaga kawasan dan sekaligus bertugas sebagai penebang kayu untuk produksi kayu, dimana kesemuanya itu didukung dengan peraturan perundang-undangan baik tingkat pusat maupun daerah.

Salah satu fasilitas yang terdapat dikawasan Taman Nasional Daizetsusan yaitu museum sebagai fasilitas pusat informasi kawasan taman nasional, dimana terdapat opsetan berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang ada di Taman Nasional Daizetsusan serta koleksi opsetan satwa dari berbagai negara, salah satu yang menarik ditempat ini yaitu terdapat opsetan Burung Cendrawasih yang merupakan salah satu dari 11 (sebelas) jenis satwa paling dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa.

Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari pelatihan konservasi lingkungan ini, antara lain bahwa :

1. Konservasi lingkungan perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari sumber air yaitu kawasan hutan, dan sepanjang daerah aliran sungai.

2. Betapa serius dan konsisten dari Pemerintah dan Masyarakat di Negara Jepang dalam penanganan lingkungan, dengan kesadaran masyarakat yang cukup tinggi untuk menjaga kebersihan dan lingkungan sekitarnya dan didukung teknologi yang memadai dalam pengelolaan lingkungan hidup, serta aturan perundang-undangan yang mendukung dalam pengelolaan lingkungan hidup.

3. Bahwa sekecil apapun yang dapat kita perbuat, telah memberikan arti penting dalam pengelolaan lingkungan, hanya dengan tidak membuang sampah sembarangan ataupun melaksanakan tugas pokok kita sebagai rimbawan dengan baik, memberikan arti yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan sekitar kita.