Senin, 29 Desember 2008 | 20:16 WIB

Laporan wartawan Kompas Irma Tambunan

KERINCI, SENIN- Hujan badai di Gunung Kerinci, Jambi, mengancam kegiatan pendakian pada akhir tahun ini. Para pendaki diingatkan juga untuk mewaspadai semburan abu vulkanik.

Pemantauan Kompas pada hari Minggu hingga Senin (28-29), hujan badai berlangsung sepanjang malam hingga esok harinya. Hujan badai mengakibatkan para pendaki yang telah mencapai shelter II di ketinggian sekitar 3.000 meter Gunung Kerinci, terpaksa membatalkan niat untuk mencapai puncak gunung.

Hujan badai mengakibatkan puluhan pohon besar bertumbangan, dan menutup jalur pendakian mulai dari Shelter I menuju Shelter II. Akibatnya, para pendatang yang memulai pendakiannya Senin pagi kemarin, sempat mengalami kesulitan untuk melanjutkan perjalanannya.

TIdak hanya terjadi di Gunung Kerinci, badai juga menerjang atap-atap rumah penduduk di Kecamatan Kayu Aro, Kerinci, yang merupakan kawasan kaki gunung. “Banyak atap-atap terbang diterjang badai,” tutur Subandi, warga Desa Kersik Tuo, Kayu Aro.

Petugas Balai Taman Nasional Kerinci Seblat yang melaksanakan pemantauan kondisi Gunung Kerinci, Giri mengatakan bahwa hujan badai kali ini terbilang sangat berat. Dalam kondisi tersebut, pendaki tidak disarankan untuk melanjutkan perjalanan, karena dikhawatirkan dapat mengancam keselamatan mereka sendiri.

Abu vulkanik

Selain hujan badai, para pendaki juga diingatkan untuk mewaspadai letusan kecil abu vulkanik pada Gunung Kerinci mengingat statusnya yang masih Waspada II.  Mereka sebenarnya belum direkomendasikan untuk mendaki Gunung Kerinci, namun setidaknya mereka diperbolehkan mendaki dengan syarat tidak mencapai kawah gunung.

“Statusnya belum berubah dibanding satu setengah tahun yang lalu, yaitu Waspada II. Para pendaki tidak direkomendasikan mendekati kawah karena mungkin sering muncul letusan abu vulkanik,” ujar Surono, Kepala Pusat Balai Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Para pendaki telah berdatangan sejak Sabtu (27/12). Mereka datang dari Jakarta, Padang, Jambi, dan sejumlah daerah lainnya untuk memanfaatkan masa libur yang cukup panjang pada akhir tahun ini.