Rabu, 17 Desember 2008 | 19:01 WIB

BANDA ACEH, RABU — Dua harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dewasa yang berada di kandang milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nanggroe Aceh Darussalam, saat ini dalam kondisi sakit. Tim dokter yang memeriksa kedua harimau tangkapan dari Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Nagan Raya memutuskan untuk mengambil contoh darah dan memeriksanya ke laboratorium.

Kepala BKSDA NAD Andi Basrun, ditemui di kantornya di Banda Aceh, Rabu (17/12), mengatakan, keduanya dalam kondisi tidak sehat sejak pertama dikarantina di kantor tersebut.

“Ini adalah perawatan ketiga. Keduanya memang dalam kondisi tidak baik ketika dibawa kesini. Ada beberapa luka di bagian tubuh mereka,” katanya.

Andi mengatakan, luka-luka yang terjadi di tubuh kedua harimau tersebut adalah luka yang didapat ketika mereka terjerat oleh masyarakat. Kemudian, luka-luka itu bertambah lagi ketika keduanya dipindahkan ke kandang milik BKSDA di kawasan Lamteumen, Banda Aceh.

“Mungkin itu yang menyebabkannya. Ada infeksi yang terus-menerus karena luka-luka tadi. Oleh sebab itu, sekarang kami obati,” katanya.

Anhar Lubis, dokter hewan Vesswic (Perhimpunan Dokter Hewan untuk Konservasi Kehidupan Liar), mengatakan, pihaknya untuk sementara ini hanya mengambil contoh darah dari kedua hewan tersebut untuk diperiksa. Apakah nanti terindikasi ada penyakit atau tidak, bisa diketahui dari hasil pemeriksaan darah tersebut, katanya.

Christopher Stemme, dokter hewan dari lembaga yang sama, mengatakan, dibutuhkan satu atau dua hari untuk memastikan ada atau tidaknya penyakit dalam contoh darah harimau yang telah diambil. Dia juga mengatakan, contoh darah yang diambil akan diperiksakan di laboratorium klinik umum. Karena tidak ada laboratorium khusus untuk hewan, kami terpaksa menggunakan yang ada. Kalau tidak, kami menggunakan laboratorium klinik milik fakultas pertanian di Universitas Syiah Kuala, katanya.

Diagnosis sementara, menurut Christopher, harimau betina asal Jantho, Kabupaten Aceh Besar menderita kerontokan bulu akibat ectoparasit. “Tapi, memang harus diperiksa dulu contoh darahnya. Kemudian baru dilakukan pengobatan,” katanya.