Kamis, 25 September 2008

INDOTIM NEWS– Polhut nekad menangkap tiga truk flouring yang dikawal oknum TNI pada Minggu (21/9) malam. Belakangan diketahui, kayu illegal itu milik pengusaha kayu H Rustam, yang terkenal dekat dengan sejumlah pejabat hukum di Muna.Issu yang beredar di Dishut, Kemarin (22/9) siang, flouring segera dibebaskan dan oknum Polhut pelaku penangkapan terancam kena ganjar.Pejabat di Dishut yang hendak dikonfirmasi soal ini tidak ada yang bersedia memberi penjelasan. Kepala Dinas tidak bisa dimintai keterangan karena dilaporkan sedang berada di Jakarta. Pejabat yang bertanggung jawab soal ini, Kasubdin Perlindungan Sahiruddin Gande, dengan wajah dibayang-bayangi ketakutan segera mengajukan,�No Comment .

Flouring sejumlah kurang lebih 8 kubik itu diambil dari Desa Wakadia, Kecamatan Kontunaga dan hendak dibawa ke CV Jati Raya Lestari di Lambiku, Kecamatan Lasalepa. Belum lolos masuk gerbang perusahaan milik H Rustam itu, polhut berhasil menghadang dan menggagalkan illegal logging tersebut.
Salah seorang anggota Polhut pelaku penangkapan berinisial IM, pengangkutan H Rustam sudah diintai sejak tiga hari berselang. Namun baru kemarin, pihaknya berhasil menangkap basah pelaku. Dua hari berselang, ungkap IM, Polhut selalu kecolongan. Spionase dilakukan sejak sore hari (minggu). Sekitar pukul 21.00 Wita, truk distarter.

Dari Wakadia, mereka lewat hutan Lakode, tembus pasar Bede di Lambiku. Kita palangkan dua biji motor baru kita tahan,�beber IM. Penangkapan diwarnai insiden pertengkaran antara petugas Polhut dan oknum pengawal truk. �Menurut dia (oknum TNI), dia yang tangkap itu truk dan dia mau bawa di kantornya. Tapi kantor kok di hutan. Lama kita bertengkar, sampai banyak warga yang datang berkerumun. Tapi akhirnya kita ngotot ambil, bawa di Dishut,�paparnya.

AKP Ramsi, Pabin Jagawana yang sempat dikroscek soal ini juga masih enggan memberikan komentar. �Ketemu dulu La Bolo (sapaan akrab Kasubdin Perlindungan;Sahiruddin Gande, Red),�dorong Ramsi. Hingga berita ini diturunkan, H Rustam Cs mendatangi kantor kehutanan dan melakukan serangkaian pertemuan dengan Kasubdin Perlindungan. Belum diketahui apa hasil perbincangan, namun kehutanan terkesan ketakutan.Takut tidak lebaran? (KEPRES)