Dalam kondisi terbius, Salma menjalani pemeriksaan kesehatan dan pengobatan di ruang karantina Kebun Binatang Taman Rimbo, Jambi, Jumat (13/2). Harimau sumatra betina ini kehilangan bayinya yang dicuri oleh sejumlah orang di area penyangga Taman Nasional Berbak, Jambi. Harimau sumatera itu kemudian diamankan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi dari intaian para pelaku perburuan satwa liar.

Selasa, 17 Februari 2009 | 09:32 WIB

Rudy Badil dan Agnes Rita Sulistyawaty

Siapa tidak takut dan ngeri kalau bertemu, meski dari jauh, dengan harimau, sosok hewan buas berbulu loreng-loreng yang sudah terkenal sejak lama sebagai makhluk pemangsa segala makhluk hidup, termasuk manusia. Satwa liar predator itu adalah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), sempat dijuluki ”sang raja hutan” atau di Sumatera Barat diberi gelar ”datuak”.

Sejak awal Februari ini, warga di Nagari Halaban, Kabupaten Limapuluh Koto, Sumatera Barat, ramai-ramai ketakutan karena ”sang datuak” sudah berkali-kali menampakkan diri pada pagi dan sore hari di hutan di kaki Bukit Sago, sekitar 200 meter dari Hutan Suaka Alam Air Putih.

”Hampir tiap hari selama dua pekan ini, ada saja warga yang melihat harimau. Sebelumnya, tidak pernah ada harimau yang terlihat. Kejadian ini baru sekali ini terjadi di sini,” tutur Ferizal Ridwan, tokoh Halaban, medio Februari lalu, soal satwa predator dan mamalia besar karnivora yang panjang badannya sekitar 170 sentimeter dengan bobot dewasa mencapai 1,5 kuintal. Apalagi, bukti keganasan binatang buas berbulu loreng hitam di sela bulu kuning kemerahan dan putih ini konon cakar tajam dan gigi lancipnya sudah membunuh seekor sapi dan empat ekor kambing peliharaan warga.

Kejadian harimau sumatera keluar hutan dan masuk kampung sebenarnya bukan berita baru. Sejak akhir tahun 1990-an harimau kerap muncul dan mendekati kampung. Harimau jantan yang hidup soliter serta sang betina bersama anakannya yang belum dewasa tidak sungkan masuk ke permukiman manusia, membunuh ternak sebagai pakan, kalau perlu menewaskan juga manusia. Sepanjang tahun 2008 saja sudah terjadi lima kasus konflik berdarah antara harimau dan manusia di wilayah Sumatera Barat.

Juga sepanjang tahun 2007, tercatat tiga kali terjadi aksi teror berdarah antara manusia dan harimau maneaters alias ”pemakan manusia”. Bahkan, seekor harimau tertangkap di sekitar Kota Padang. Kepala Badan Koordinasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat Indra Arinal melihat, ada sisi positif dari banyak konflik harimau yang terjadi di Sumbar. ”Konflik itu menunjukkan harimau sumatera masih tersebar merata di hampir seluruh kelompok hutan di Sumatera Barat,” ujarnya.

Aksi teror maut

Kejadian teror harimau versus manusia sebetulnya lebih sering menimpa harimau, misalnya pada tahun 2006, ada foto yang memperlihatkan harimau betina muda yang terkapar mati dengan pelipis hancur dan terbujur kaku. Di tubuh harimau itu juga terdapat luka-luka dan kuku-kukunya copot. Malah kumisnya pun plontos sudah tercabut semua.

Di sekitar bangkai harimau itu ada sekitar 20 manusia berdiri menonton bangkai satwa liar langka yang konon tersisa antara 400 dan 500 ekor di seluruh hutan di Sumatera yang parah rusaknya.

Makin susut dan sedikitnya populasi harimau liar sudah terduga dan teramal sejak awal zaman Reformasi. Hutan Sumatera yang sudah lama menjadi korban hak pengusahaan hutan dan perburuan tradisional mulai terusik hebat oleh pembalakan dan pencurian liar. Perubahan peruntukan kawasan lahan menjadi perkebunan besar, juga pemburu liar keluar masuk hutan untuk memburu rusa, babi hutan, dan lainnya, membuat harimau makin terjepit di ”rumah hutan” rusaknya dan makanannya yang semakin langka.

Departemen Kehutanan dengan aparat di BKSDA Sumatera segera mengambil tindakan penyelamatan, antara lain dengan menyelamatkan sisa harimau liar itu dengan mengusirnya masuk hutan atau menjebaknya lalu dirawat, dipelihara, dan ditangkarkan untuk suatu saat nanti dilepas kembali ke habitat aslinya.

”Kami kebagian tugas menangkarkan harimau tangkapan itu di lokasi penangkaran eks-situ harimau sumatera,” ujar Tony Sumampau, Direksi Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor. Kini sudah ada 36 ekor harimau asli sumatera yang hidup di balik kerangkeng penangkaran dengan perawatan serius. Sudah ada beberapa ekor anakan harimau sumatera lahir di Cisarua.

Harimau yang di alam liarnya per ekor butuh sekitar beberapa kilometer persegi, sebagai areal pengembaraan atau home range yang ”dikuasai” sebagai teritori habitatnya. Pada saat musim berahi, pejantan harimau mencari jodohnya lalu kawin, kemudian meninggalkan betina yang sedang hamil untuk melahirkan dan merawat anakannya. Naluri hidup liar dalam teritori dan berburu mangsa serta mencari jodoh, dianggap salah satu hambatan besar apabila harimau tangkaran proyek itu mau dilepaskan. ”Ini masalahnya, sebab hutan di Sumatera nyaris rusak berat. Kalau penangkaran kami berhasil, anakannya mau di ke manakan?” ujar Sumampau yang mengakui anakan harimau kandangan itu pasti ada perubahan perilaku liarnya.

Dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga ujung selatan hutan Bukit Barisan di Lampung, sisa harimau liar masih bergentayangan mencari lahan kehidupan dan bukan memangsa manusia hidup-hidup. Teror kasus manusia diterkam harimau pernah terjadi dan akan terjadi. Mengingat teritori habitatnya terjepit dan menciut serta mangsa hidup yang kian menipis stoknya di hutan, memaksa sekitar 400 harimau ini menjadi survival yang harus hidup. Padahal, Wildlife Conservation Society (WCS) memprediksi paling tidak tahun 2008 tersisa sekitar 250 ekor harimau liar di 18 habitat meliputi taman nasional, hutan lindung, dan areal konservasi lainnya di seluruh Sumatera.

Anehnya, kalau manusia tewas akan ramai diberitakan dan pemerintah turun tangan, tetapi kalau harimau sumatera terjebak, terjerat, dan ditembaki pemburu liar untuk menjual kulit, gigi, kumis, kuku, tulang, daging, dan organ tubuh lainnya, rasanya belum pernah ada tindakan tegas dan pemberitaan luas.

Foto harimau terkapar merupakan suatu bukti kalau oknum manusia itu sebetulnya lebih teroris dibandingkan harimau. Manusia memang predator, dor!

(RUDY BADIL, wartawan senior di Jakarta)

About these ads